230 views
Ke(E)ping Buku

[Ke(E)ping Buku] Novel Cadel (Sebuah Novel Tanpa Huruf E) Karya Triskaidekaman

Gambar Dari Penulis

Judul Buku : Cadel (Sebuah Novel Tanpa Huruf E)

Penulis : Triskaidekaman

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utamal

Tanggal Penerbitan : Cetakan Pertama Maret 2020

Juru Sunting : Afandi

Tampilan Sampul : Orkha.id

“Uang adalah solusi masalah apa pun di dunia ini, bukan? Sayangnya, kita hidup di dunia timur. Kalau di dunia Barat, ilmuwan bisa digaji tinggi. Tapi di Wiranacita? Cuma artis dan politikus yang bisa dapat lumayan.”

Dimulai dari…

Twitter membuka sarana saya bertemu dengan novel ciamik ini. Awal ketertarikan saya karena gambar pisang yang disensor kemudian ada beberapa huruf juga ikut disensor. Awalnya saya belum memutuskan membeli buku ini karena beberapa macam hal yang membawa saya agak takut membeli novel dari karya penulis ini sebelumnya. Kenapa? Tentu karena karya Mba Triskaidekaman selalu memiliki unsur kisah yang susah dimengerti. Bukan berarti jelek, hanya saja, alur cerita tidak bisa dibaca hanya sekali atau setiap bab nggak boleh terlewat satu pun dari penglihatan.

Anehnya, novel ini berbeda. Begitu mudahnya penglihatan dan pikiran saya bekerja sama. Kenapa?

Berikut ini alasanya …

Ringkasan Alur kehidupan dengan Tokoh-Tokoh Yang Hidup

Cadel adalah novel yang menitikberatkan huruf E sebagai masalah inti di novel ini. Dengan alur maju-mundur, sudut pandang aku dan dia, berhasil memberikan kisah yang membuat pembaca semakin penasaran.

Dimulai dengan pemimpin diktator di Wiranacita yang melarang huruf E digunakan atau bahkan masuk dalam kamus bahasa. Pemimpin diktator itu bernama Zaliman yang memiliki banyak ketakutan mengenai rahasia kelamnya.

Sampai di titik dasar ketakutan Zaliman, dia menugaskan Ivan untuk membuat dua maklumat bahwa siapapun yang menggunakan huruf terlarang itu akan mendapatkan tiga hukuman bertahap.

Hukuman pertama : cabut satu hingga tujuh gigi, dan jahit bibir.
Hukuman kedua : cabut lidah, tusuk gala, tusuk lambung.
Hukuman ketiga : Hukuman bui, hukuman mati.
Maklumat larangan itu juga didasari oleh maklumat pertama yang melarang penggunaan kata-kata makian, kata-kata binatang, dan frasa jorok lainnya. Komunikasi warga Wiranacita pun menjadi sempit karena pasukan hijau akan mengintai mereka.

Dari Zaliman yang mengatur huruf vokal selain huruf  E  untuk dilarang digunakan oleh rakyat Wiranacinata, Lamin Langgarjati pun menjadi tokoh yang penasaran dengan apa yang terjadi di negaranya. Dia mulai pemburuan dengan mengulik seorang nama Bagus Prihardiana, yang tidak sengaja muncul di kolom komentar daring para pembisnis pisang.

Lamin merupakan tokoh yang memyambung hidupnya sebagai pembisnis pisang di toko daring dan menikahi seorang wanita bernama baby, yang di novel ini dilambangkan dengan ikon (๏ท).  Alasannya Lamin membangun bisnis ini dikarenakan dia merasa ada kejanggalan dari komentar beberapa pemilik pisang mengatakan bila koran yang memuat puisi milik Bagus Prihardana adalah pemicu mengapa bisnis pisang melonjak tinggi. Namun, koran tersebut langsung saja ditutup oleh pemerintah Wiranacita. Karena nama Bagus sudah dilarang beredar di negara Wiranacita karena Zaliman menolak keras puisi miring itu untuk kembali beredar.

Karena hal itu, rasa penasaran Lamin semakin memuncak. Lagi-lagi, penasaran itu juga yang membawa Lamin memilih bekerja juga sebagai pramuniaga di Toko Buku Sastraloka, yang sangat ditentang oleh Baby (๏ท). Dan di toko buku Sastralokala dia bertemu dengan Kasdiman Dirgahayu dan Jingan Cukimarno. Selama dia bekerja di sana, tidak ada keganjilan yang seperti Baby katakan. Namun, mendadak Kas dilaporkan hilang.

Peninggalan Kas di toko buku Sastraloka membawa Lamin bertemu dengan Ivan, anak buah Zaliman.  Pertemuan Lamin dengan Ivan memiliki maksud tersembunyi. Ivan meminta Lamin sebagai abdi magang adikamus, yang mana dia diperintahkan untuk mengawasi huruf e itu tidak ada di Adikamus. Ivan pun memberikan informasi bahwa kepergian Kas adalah kepergian untuk selamanya, dalam artian kas sudah meninggal.

Lamin pun setuju karena mau tak mau dia hanya memiliki dua pilihan, masuk sebagai abdi magang atau otaknya bersiap dicuci. Sebagai syarat juga, Ivan melarang agar siapapun tidak boleh tahu bahwa Lamin bekerja sebagai abdi magang. Persetujuan ini juga dikarenakan Lamin ingin tahu bagaimana pasukan Zaliman, termasuk Ivan bisa mengetahui Kas meninggal dunia.

Dan di sanalah, Lamin menemukan keanehan. Di ruangan tunggu ini, hanya ada dirinya dengan satpam. Apalagi dindin ruangan ini penuh dengan kerangka mayat yang terlihat hidup. Sebagian mayat di dinding itu sempat Lamin kenali sebagai Kas.  Apalagi tidak ada abdi magang lainnya. Hanya tersisa dirinya.  Karena mulai merasa semakin ganjil, Lamin mencoba mengikuti semua perintah Ivan. Di pekerjaan barunya sebagai Abdi magang pun membawa dia bertemu Jingan.

Dan bukan hanya itu, di pekerjaan ini, Lamin berhasil menemukan kumpulan puisi Bagus Prihardiana dari arsip data, yang diinformasikan jelas oleh Jingan. Buku Bagus Prihardiana dimiliki oleh toko buku Suaka Wacana milik Hanam, seorang teman Lamin. Dibalik pencarian Lamin terhadap buku puisi ini membawa Lamin terjebak oleh kediktatoran Zaliman yang ingin buku asli itu musnah termasuk si pemilik buku. Dan saat itu, Lamin adalah pemilik buku puisi Nagus Prihardana.

Ternyata, Lamin tengah masuk dalam situasi seperti api dalam sekam, yang mana hal yang tidak baik itu tidak ditampakkan selama awal dia bekerja dengan Ivan.

Semua yang ada di sekitarnya, baik Baby, Hanum, Ivan, Kas, dan Jingan telah menitikumpankan Lamin terhadap sang Diktator. Sebenarnya, seseorang itu telah memberitahu Lamin untuk tidak melanjutkan pencarian makna dari buku puisi Bagus Prihardiana, tetapi rasa penasaran itu membawa Lamin semakin terjebak.
Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Apakah Lamin bener-benar dihukum mati? Siapa Bagus Prihardiana? Bagaimana dengan mayat di dinding kantor magang Lamin yang sempat dia pikir itu adalah mayat Kas? Bagaimana bisa mereka bekerja sama menjebak Lamin?

Menurut Saya Mengenai Novel Ini.

Awalnya saya dibuat penasaran dengan Bagus Prihardana di mesin pencarian. Tidak ada. Nama penulis ini tidak ada. Semakin penasaran saya dengan dua buku yang berjudul sama tetapi dengan penulis berbeda. Akhirnya pun saya membeli buku ini melalui aplikasi e-commerece. Tidak ada informasi mengenai puisi ini kecuali tulisan mendapatkan sebuah puisi terlarang.

Saya tahu, penulis ini selalu menyimpan plot yang sangat mencengangkan setiap pembacanya.


Beberapa hari kemudian buku ini datang, lantas segera aku menyobek pelan plastik. Dua buku itu sudah di tanganku. Novel milik mbak Triskaidekaman dan milik Bagus Prihardana.

Buku puisi ini menjadi awal saya buka pertama kali. Saya lihat hingga halaman terakhir. Banyak makna yang membuat saya mengkerut bingung tetapi indah sekali diksi yang dipakai Bagus ini. Mungkin ini penulis puisi baru. Setelah selesai dengan buku puisi, saya lekas membuka novel Cadel milik mba Triskaidekaman. Bertemulah saya dengan tokoh-tokoh yang hidup dengan plot cerita yang menyenangkan pembaca, sampai saya pun terlarut dan menemukan tokoh yang seakan-akan menyimpan rahasia serupa dengan sampul pisang yang disamarkan oleh si Penulis. Rahasia yang menguak mengapa ada buku puisi milik Bagus Prihardiana berdampingan dengan novel Cadel.

Iya. Buku puisi yang yang saya kira adalah buku dari penulis lain ternyata adalah buku yang berkaitan erat dengan cerita dari novel ini. Bagus Prihardiana adalah tokoh fiksi yang dibuat penulis. Isi puisinya berkaitan dengan kisah kehidupan si Tokoh. Tapi sebelum itu, saya senang mendapatkan novel yang bertanda tangan penulis. Makasih banget Gramedia.com dan Mba triskaidekaman.

Lagi-lagi penulis ini berhasil memberikan keunikan tersendiri dalam novel terbitannya. Saya hampir berteriak nyaring karena merasa terbodohi. Namun, ternyata di akhir cerita saya semakin terbawa emosi dengan maklumat-maklumat si Zaliman. Mungkin ini terbukti bahwa penulis berhasil membuat saya menganggap tokoh di Wiranacita itu asli. Mengapa demikian? Maka inilah ulasan saya.

Menurut saya, genre novel Cadel seperti cerita Utopia yang berdampingan dengan fiksi sains. Kenapa? Karena banyak sekali pemakaian nama dari tekhnologi seperti sansing yang artinya nama lain untuk surat singkat, pongam yaitu sebagai alat komunikasi nirkawat, beberapa tempat belajar yang dinamai cukup arkais, dan tentu organisasi dengan nama lain seperti Grha Pancaka Nasional.

Cadel dalam KBBI adalah kurang senpurna mengatakan [r] menjadi [l]. Namun, buku ini bukan mengenai tokoh utama yang sulit berbicara huruf R, tetapi pelarangan huruf E yang dilakukan oleh sang pemimpin negara Wiranacita.

Di awal-awal halaman, saya mendapatkan isi maklumat yang dibuat sebegitu nyatanya. Kenapa? Karena maklumat itulah yang membuat saya terhanyut bahwa negara Wirnacita benar-benar nyata. Bagaimana tidak? Dalam cerita Cadel saja saya mendapat dua penokohan aku dan dia.

Aku diperuntukkan untuk Lamin Linggarjati dan dia untuk tokoh-tokoh lainnya. Aneh kan? Semakin dibuat bingung juga dengan cerita ini.

No! Cerita memiliki alur yang jelas tanpa saya temukan lubang menganga cukup besar dalam novel ini. Dari buku puisi yang disampingkan saat kita akan membeli buku Cadel, kita mendapatkan informasi di sampul belakang bahwa puisi ini berasal dari dana hibah dari pusat syair dunia, 26 dari 75 puisi Bagus Prihardana bisa dipulihkan Badan Bahas dan Syair Wiranacita pada tahun 2040.

Belum membaca novel utamanya saja, saya sudah dibuat masuk di kehidupan mengenai kisah Bagus Prihardana itu nyata adanya.

Gila! Bagaimana bisa Mba Triskadekaman membuat alur semenarik ini?

Lalu apakah puisinya sebagus alur cerita novel utama?

Aku akan mengatakan “Ya! Sangat! tapi…,”


Memang bagus, tetapi untuk memahami puisinya kita wajib mendahului memakan habis novel utamanya. Awal membaca puisinya mungkin akan merasa biasa saja, tetapi berada di baris tengah, menemukan judul ” Maaf untuk Baim”  membuat agak membingungkan. Jadi, saran saya, lebih baik dalami dulu novelnya, lalu baca tuntas puisi Bagus.

Ada lagi yang membuat saya hampir percaya dengan rakyat wiranacita yang mungkin nyata adalah beberapa nama lokasi yang tidak “Difiksikan”.

Contoh halnya, alamat toko buku Suaka Wacana yang benar-benar ada di Inggris dengan alamat stratford-upon-Avon, dan tidak sama sekali dibuat fiksi oleh sang penulis. Dan karena itulah yang membuat saya berpikir bila novel ini seperti perumpamaan untuk negara diktator yang memperlakukan rakyatnya semena-mena. Bahkan, buku-buku di suaka wacana terdapat bacaan berbahas inggris, tiongkok, spanyol dan macam-macam. Apalagi institut Oxford ikut ditulis dalam novel ini. 

Kesukaan saya dalam kisah ini adalah saya dipertemukan dengan Kas yang jatuh hati dengan puisi. Dalam buku puisi milik Bagus, dia mengambil larik, ” ini amin yang dibungkus iman, kami kupaskan khusus untukmu.”

Dari larik itu, Kas pun mengumpamakan seperti ini,

Buat saya, baris-baris ini artinya iman itu mirip pisang. Manis dan lunak. Mudah diolah, banyak yang suka. Itulah yang buat orang suka olok-olok iman orang lain. Orang-orang bisa marah. Namun dalam hati siapa yang tahu? Jangan-jangan justru olok-olok imanlah yang paling ditunggu masyarakat.”

Perumpamaan ini juga membawa saya jatuh cinta terhadap penokohan. Tokoh-tokohnya tertata rapi dengan banyak kisah-kisah yang membuat pembaca tahu sebab akibat kenapa tokoh utama memiliki sikap seperti ini. Zaliman, Lamin, Ivan, Baby, Kas, Jingan, dan Hanum itu memiliki alasan yang kuat mengapa mereka mendadak hadir di novel ini lantas saling bertemu kemudian membentuk sebuah konflik dan akhir cerita yang membuat pembaca yakin novel ini bisa ditafsirkan dengan banyak makna.

Seperti halnya dalam percakapan Baby dengan Jingan.

Gila apanya? Gila gara-gara kaupikir rakyat kita ini sudah pintar-pintar? Mana ada orang pintar di Wiranacita, Jingan? Yang ada cuma orang-orang sok pintar, pakai istilah susah-susah, tapi tak paham apa maksudnya pas ditanya balik. Tinggal pintar-pintar bungkus hoaksnya saja. Anggap saja lagi jualan.”

Seperti apa yang saya bilang, novel ini memiliki beragam penafsiran di akhir cerita. Karena saya merasa ceritanya menggantung. Namun bagi saya, saya menafsirkan novel ini dimana suatu saat nanti, dunia akan diduduki pimpinan yang harus diktator, seperti Zaliman.

Kenapa seperti itu?

Karena alur maju-mundur yang ada di dalam novel ini memang hampir terjadi di setiap negara di dunia.

Tunggu … Alurnya maju mundur kadang membuat bingung, kan? Iya. Mungkin itu kelemahannya. Pembaca diwajibkan menatap satu per satu huruf sampai pada akhir lembar novel ini. Dan itu mungkin tujuan dari penulis, ahar kita tahu bahwa novel ini benar-benar tidak menggunakan huruf E sama sekali.

Kaget, bukan? Ya. Saya nggak mungkin memberikan bukti bahwa Mba Triskaidekaman benar-benar menghilang huruf E dalam diksinya, tetapi kalau kalian penasaran, silakan memilih untuk check out di salah toko buku online.

Baiklah, ulasan ini semoga bisa membuat kalian yakin untuk membeli buku unik dari penulis Triskaidekaman.

Dan hati-hati bila suatu saat nanti kita bisa menjadi rakyat Wiranacita, maka bersiaplah berakhir seperti Lamin Linggarjati karena memiliki kumpulan puisi terlarang.

Sebelum itu terjadi, lebih baik membaca buku ini dengan santai dulu dan sesekali menyecap kopi atau teh bunga kesukaan kalian dengan kue kering untuk menemani bahwa novel ini masih belum dilarang oleh pimpinan seperti Zaliman di dunia kita.