Ke(E)ping Buku

[Ke(E)ping Buku] Novel Salt To The Sea Oleh Ruta Sepetys

Kukatakan kepada mereka bahwa tanda kehormatan hanya bagus untuk mati. Kita harus berjuang selama kita masih hidup

Judul Buku : Salt To The Sea

Penulis : Ruta Sepetys

Genre : History, drama,

Alih Bahasa : Putri Septiana Kurniawati

Penerbit : PT Elex Media Komputindo

Jumlah Halaman : 371 halaman

Goodread : 4.35/5

Ratingku : 5/5


Sinopsis Cerita

Tahun 1945, perang dunia II merambah Prusia Timur. Jutaan pengungsi pergi mencari tempat aman. Di antara mereka terdapat empat orang dengan kisah dan rahasia yang berbeda. Takdir mempertemukan keempatnya di Wilhelm Gustloff, kapal megah yang menjadi tempat mereka menggantungkan harapan bersama lebih dari sepuluh ribu penumpang lainnya. Tapi sebelum kebebasan sempat diraih, tragedi besar pun terjadi. Tak peduli dari negara mana mereka berasal dan status apa yang mereka sandang, ribuan penumpang kapal harus berjuang keras melakukan satu hal: BERTAHAN HIDUP.

Ulasan Novel Salt to The Sea

Dimulai dari empat tokoh yang diceritakan dengan menggunakan sudut pandang pertama. Joana, Florian, Emilia dan Alfred. Awal cerita, novel ini secara langsung menggambarkan penderitaan dari empat tokoh tersebut. Jadi, jangan kaget begitu membaca kalian diperlihatkan bagaimana hasil dari kejamnya manusia. Bagaimana empat tokoh ini berhadapan dengan hiruk pikuk kekejaman perang yang membawa penderitaan ke masing-masing tokoh.

Setiap sudut pandang di awal-awal, kita sudah digambarkan karakter yang dimiliki oleh Joana, Florian, Emilia, dan Alfred. Joana adalah sosok wanita yang baik dan seorang perawat. Kebaikannya itulah membawa beberapa orang nyaman untuk mengikutinya. Florian adalah seorang pria yang paling dingin, keras kepala, dan egois. Emilia adalah seorang gadis yang penakut. Alfred adalah seorang lelaki yang begitu percaya dirinya menganggap dirinya sebagai pahlawan, walaupun dia hanya sekadar pembantu di kapal dengan tingkat bintang paling rendah. Empat karakter tokoh ini digambarkan jelas dengan penderitaan dan rahasia yang tersimpan rapat-rapat.

Penggambarannya jelas bagaimana akhirnya mereka berempat bertemu. Pelan demi pelan, kita akan diantarkan penulis bertemu dan berkumpul dengan empat tokoh di cerita ini. Namun, sebelum keempat tokoh itu bertemu, mereka mendapatkan banyak rintangan. Percayalah. Setiap lembar, novel ini berhasil membawa penderitaan jelas yang terjadi di antara empat tokoh ini. Dan, sekali menemukan hal yang lucu, selanjutnya, penulis segera menjungkirbalikkan keadaan menjadi . penderitaan yang menyakitkan

Saya sepertinya terlalu mengambarkan novel ini penuh penderitaan. Karena iya. Dari awal hingga pertengahan cerita, ada saja kata menderita itu di sela cerita salt to the sea.

Untuk alur, novel ini memberikan alur maju-mundur yang digambarkan oleh masing-masing tokoh. Bagaimana indahnya dunia sebelum peperangan. Bagaimana empat tokoh ini menghadapi dunia normal mereka. Sayangnya, alur mundur berupa kebahagiaan dari tokoh ini hanya ada dalam kenangan mereka. Seperti sinopsis di belakang buku ini, yang mereka hadapi sekarang adalah cara bertahan hidup.

Pelan demi pelan, novel ini juga memberikan kisah cinta, persaudaraan, dan persahabatan, walaupun penderitaan itu lebih banyak dari empat hal itu. Apa yang saya katakan, novel ini memiliki kisah yang sangat tragis.

Banyak pendapat, novel ini lebih tragis dari kisah titanic. Ya. Anggapan itu benar. Namun, Jack dan Rose tidak berakhir bahagia, tapi mereka berakhir dengan kisah cinta yang menyenangkan.

Bahkan untuk latarnya pun, novel ini jelas sekali mendeskripsikan kekejian di masa perang kedua. Bagaimana kita berada di tengah kekacauan, dan bingung harus melakukan apa saja. Latar yang menggambarkan jelas bagaimana serangan itu memporak-porandakan mereka berempat. Di novel ini pun kita bisa mendapatkan gambaran jelas melalui peta yang dibuat di akhir dan di awal novel ini. Penulis sepertinya ingin membuat pembaca seperti saya dengan nyatanya mampu merasakan kengerian penderitaan tokoh-tokoh di novel ini

Namun, setiap segala hal pasti memiliki ada kelebihan dan kekurangan. Saat membaca salt to the sea, saya bingung karena di awal cerita, banyak sekali sudut pandang yang berpindah-pindah. Dari Joana, Emilia, Florian, Alfred. Dan itu tidak menjelaskan karakter mereka di awal. Mungkin karena narasi di awal-awalnya masih sedikit. Hanya dijelaskan empat tokoh sedang menghadapi kenyataan perang dunia kedua.

Jadi, saya perlu bolak-balik melihat, yang bertemu atau bercakap dengan salah satu tokoh ini siapa. Akan tetapi, itu hanya sebentar. Karena setelahnya kalian akan terbuai dengan kisah mereka berempat.

Jika kalian ingin menyaksikan kekerasan di masa perang dengan bumbu seperti film titanic yang fenomenal, yes, here it is. Apakah novel ini happy ending atau sad ending? Karena sebelumnya saya juga sempat menuturkan kisah cinta mereka tidak semenyedihkan titanic, tetapi saya bingung menjelaskan ending ini apakah akan bahagia atau sedih. Karena yang namanya kisah bertahan hidup, tokoh wajib memilih hidup atau mati.

Ada beberapa kutipan yang indah, dan mungkin dari kutipan ini kalian akan menyadari, bagaimana ending dari novel salt to the sea.

Burung camar adalah roh para tentara mati. Burung hantu adalah roh para wanita. Burung merpati adalah roh gadis perawan yang baru saja mati.

Tinggalkan kubis busuk di dalam keranjang. Tidak msuk akal menyimpan kubis yang daunnya tinggal beberapa lembar.

Ada pepatah, kematian punya ribuan pintu untuk mengambilnya. Aku akan mencari satu pintu. Kita semua punya pintu yang menunggu. Ak tahu itu. Aku menerimanya. Tapi untuk anak-anak, itulah yang sulit ak terima.

Kehidupan sanggup mencercah kematian. Kita harus mencrikan sepatu.

Rintangan ada bukan supaya kita menyerah. Tapi untuk ditaklukkan.

Sampai kematian datang, semuanya adalah kehidupan.

Setelah membaca kutipan di atas, siapkah kalian menerima resiko dari ending novel ini? Siapa tau tidak, kalian wajib membawa buku ini ke dalam kehidupan kalian. Karena, buku ini membawa saya kalut dan bahagia dan entah nano nano. Bahkan, saya rela memberi rating 5/5 di goodreads, saking begitu nyamannya dengan novel ini.