314 views
Ke(E)ping Buku

[Ke(E)ping Buku] Novel Never Let Me Go Oleh Kazuo Ishiguro

“Sebelum itu, semua klon atau siswa– seperti kami lebih suka menyebut kalian hanya hidup demi ilmu kedokteran. Pada masa awal, sesudah perang, hanya itu makna kalian bagi kebanyakan orang. Benda samar-samar dalam tabung uji coba.”

Judul Buku : Never Let Me Go

Penulis : Kazuo Ishiguro

Genre : Dystopia, Romance, Drama

Alih Bahasa : Gita Yuliani K.

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman : 358 halaman

Rating Goodread : 3.82/5
Ratingku : 3.3/5


Sinopsis Cerita

Dari luar, Hailshem tampak seperti sekolah asrama inggris yang menyenangkan, jauh dari sentuhan kota besar. Murid-muridnya diajari dengan baik, diajari seni, olahraga, dan ilmu pengetahuan. Namun anehnya mereka tidak dibiarkan berhubungan dengan dunia di luar asrama mereka.Kathy, yang kini sudah dewasa, mengenang kembali masa-masanya di Hailsham.

Ingatan tentang persahabatannya dengan Ruth dan Tommy, tentang masa kanak-kanaknya di asrama tersebut, membuka berbagai rahasia di balik dinding Hailsham. Di sanalah manusia dikloning agar bisa menyediakan organ-organ yang dibutuhkan oleh penduduk dunia luar yang sakit.

Ulasan Cerita

Novel ini dimulai dengan menggunakan sudut pandang pertama yang dimiliki oleh sudut Kathy. Alur yang digunakan mundur. Latarnya berhubungan dengan Negara Inggris. Narasi yang diceritakan oleh Kath sungguh luar biasa. Seakan si Kath adalah sosok protagonist yang tahu semuanya.

Dia dengan mudah menebak berbagai macam perasaan lawan mainnya. Seakan-akan, dia adalah cenayang. Padahal dia hanyalah sosok tokoh Aku yang pendiam dan tidak tahu apa-apa. Apalagi, bila berhubungan dengan dua sahabatnya, Tommy dan Ruth.

Novel ini menyajikan kisah yang unik. Sebuah topik kloning untuk menyembuhkan macam penyakit penduduk di luar sana. Topik yang sangat menakutkan. Siapapun yang membacanya pasti tertarik. Bahkan novel ini memenangkan penghargaan nobel sastra tahun 2017. Sempat dibuatkan film dengan aktor-aktor papan yang sempat memenangkan penghargaan bergengsi dengan latar negara inggris.

Kelebihan novel ini adalah topiknya dan penyajiannya dengan keunikan tersendiri. Contohnya, asrama ini memiliki keunikan yaitu setiap murid Hailsham ingin membeli barang, dia bisa menukarkan dengan voucher di hari yang namanya Exchange.

Namun pendeskripsian yang membuat saya merasa novel ini membosankan. Dialog pun hanya sedikit. Novel yang lebih ke arah menceritakan. Konflik yang digunakan pun tidak mencuat begitu luar biasa. Kadang, saat saya membacanya, saya sendiri bingung, apa saya sudah sampai ke konflik utamanya. Karena sejak membaca di bab awal, saya hanya tahu Kath bercerita mengenai keadaan Tommy dan Ruth dan kisah cinta mereka berdua.

Tentu saja, tokoh di dalam novel ini tahu bahwa mereka ini kloning. Akan tetapi, mereka seakan-akan tak peduli, pasrah, dan menerima nasib begitu saja sebagai model kloning.

Dan sedikit bocoran, judul dalam novel ini berasal dari sebuah lagu Judy Bridgewater – never let me go.

Anehnya, Kath yang mendengarkan lagu ini menganggap lagu ini mengenai seorang wanita yang tidak bisa hamil, akhirnya memiliki anak dengan mukjizat luar biasa. Dan si wanita memeluk bayi itu seakan-akan dia tak ingin dipisahkan.
Menurut saya, inilah awal mula kenapa tokoh-tokoh ini berperilaku sepasrah itu menjadi model klon.

Sampai Kath, Tommy dan Ruth bertemu dengan seorang teman bernama Rodney dan Chrissie. Dari mereka berdualah, Kath, Tommy dan Ruth menemukan desas-desus penangguhan. Dan di sinilah semua bermulai. Tommy yang sangat percaya bahwa hal itu ada. Begitu juga dengan Ruth. Namun tidak dengan Kath, si pencerita di dalam novel ini. Rodney dan Chrissie mengatakan bahwa penangguhan ini ada jika kita bisa menemukan pasangan sejati mereka.

Lantas, Ruth mengatakan bahwa Tommy dan Kath memang ditakdirkan bersama. Ya, saya rasa juga seperti itu. Karena sejak awal, hanya Kath saja yang menjadi sumber kepercayaan Tommy. Apa pun yang Tommy rahasiakan, selalau dia jabarkan kepada Kathy. Namun, saya hanya menganggap itu dilakukan karena mereka bersahabat.

Anehnya, saat mereka menemukan desas-desus itu. Tiga orang ini seakan masih pasrah. Mereka tidak mau mengambil satu kesempatan sama sekali untuk kabur sebagai model klon. Aneh, kan? Jika saya jadi tokoh dalam novel ini, saya akan bertanya. Sehenarnya Tommy yang sedikit berusaha. Namun, usahanya hanya menerka-nerka mengenai galery yang dipunyai oleh Madame itu. Dan hanya Ruth yang berani bertindak hanua dengan cara menemukan rumah Madame. Mereka ke sana, tetapi sepasrah itu mereka menerima nasib.

Saat Kath mendapatkan posisi senagai suster, sedangkan Ruth dan Tommy tetap menjadi pendonor, mereka nggak sama sekali membenci Kath. Hanya saja, Tommy yang memang sejak awal percaya mereka bukan sekadat model, mulai sering menyindir Kath. Ya, hanya sindir menyindir saja, nggak lebih, dan nggak ada niat cari cara lain gimana bisa keluar dari takdir mereka.

Namun…

Awalnya saya benci dengan kedataran konflik di novel ini, tetapi di akhir cerita semua itu terbuka. Mereka memang melakukan kepadrahan itu karena ada sebab. Sebelumnya, hampir saya memberi rating 2.9 di novel ini.

Karena begitu tahu akhir ceritanya, saya merasa novel ini juga worth it kok untuk dibaca. Oleh karena itu, begitu kita sudah ditakdirkan, mana bisa mengelak begitu saja. Apalagi sebuah kematian, bukan?

Berikut ini kalimat yang saya temukan di novel ini. Sedikit memang. Karena seperti saya bilang, novel ini agak membosankan tapi berhasil merubah pikiran saya bahwa mereka di novel ini sangat menyedihkan dan tragis.

Masalahnya ini kedengaran aneh. Katanya kalau aku tidak mau kreatif, kalau aku benar-benar tidak suka, itu tidak apa-apa. Itu tidak masalah, katanya.Katanya benda seperti gambar puisi, segala sesuatu seperti itu, katanya itulah yang menunjukkan hatimu, katanya itu mengungkapkan jiwamu.

Terlalu mudah,” tukasku. “untuk mengkritik kalau hanya lewat dengan mobil.” “Hal yang paling mudah di dunia ini,” timpal Tommy.

Jadi bagaimana? Saran saya, membaca novel ini memang harus pelan-pelan. Karena begitu datarnya, saya sempat merasa ingin berhenti membaca. Nggak masalah. Karena novel ini memang seperti itu. Tidak ada humor sedikitpun. Dark, lebih tepatnya. Gunakan waktu senggang yang menyenangkan. Karena bila perasaan kurang enak, saya rasa kalian tidak akan masuk ke dalam cerita novel ini. Jadi, make your feeling happy and listen the song of Judge Bridgewater- never let me go.