Ke(E)ping Buku

[Ke(E)ping Buku] Novel Maryam Oleh Okky Madasari

Yang namanya keyakinan memang tak bisa dijelaskan, Ia akan datang sendiri tanpa harus punya alasan

Judul : Maryam

Penulis : Okky Madasari

Genre : Agama, Romansa.

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman : 280 halaman; 20cm
Rating Goodread : 3.61 / 5
Ratingku : 4.1 / 5


Sinopsis Novel Maryam

Tentang mereka yang terusir karena iman di negeri yang penuh keindahan.

Lombok, Januari 2011

Kami hanya ingin pulang. Ke rumah kami sendiri. Rumah yang kami beli dengan uang kami sendiri. Rumah yang berhasil kami miliki lagi dengan susah payah, setelah dulu pernah diusir dari kampung-kampung kami. Rumah itu masih ada di sana. Sebagian ada yang hancur. Bekas terbakar di mana-mana. Genteng dan tembok yang tak lagi utuh. Tapi tidak apa-apa. Kami mau menerimanya apa adanya. Kami akan memperbaiki sendiri, dengan uang dan tenaga kami sendiri. Kami hanya ingin bisa pulang dan segera tinggal di rumah kami sendiri. Hidup aman. Tak ada lagi yang menyerang. Biarlah yang dulu kami lupakan. Tak ada dendam pada orang-orang yang pernah mengusir dan menyakiti kami. Yang penting bagi kami, hari-hari ke depan kami bisa hidup aman dan tenteram.

Kami mohon keadilan. Sampai kapan lagi kami harus menunggu?

Maryam Hayati

Ulasan Novel Maryam

Ada satu alasan mengapa aku mendadak jatuh cinta dengan tokoh bernama maryam yang juga memiliki kesaamaan judul di novel milik Okky Madasari ini. Novel ini menyimpan banyak keyakinan yang dimiliki oleh banyak orang. Keyakinan yang kadang menjerumuskan mereka kepada alasan membinasakan. Bahkan, novel ini sampai sekarang menampar keras wajah saya.
Di awal cerita, saya sudah diantar Maryam ke kesendiriannya. Tahun 2005, Maryam kembali ke kampung halamannya, Lombok.

Tujuannya sama, memohon ampun kepada orangtuanya. Lantas apa yang membuat saua tertampar?
Kisah Maryam dengan keluarga yang beragama islam ahmadiyah. Di novel ini tidak hanya menyajikan kisah romansa pelik, tetapi keyakinan seseorang yang hampir membunuh saudaranya. Maryam yang dikelilingi Umar, Gamal, dan Alam membawa saya semakin dalam masuk ke novel ini.

Di novel ini, saya melihat bagaimana Ahmadiyah melangsungkan ibadahnya. Dari novel ini pula saya tahu bahwa Ahmadiyah mendapatkan kisah pilu yang disangka sebagai agama sesat.

Awalnya Maryam memang anak baik-baik, ikut apa pun perintah orang tuanya. Bahkan saat dia bersekolah di Universitas Airlangga surabaya, dia masih sering mengikuti kegiatan Ahmadiyah di Surabaya bersama keluarga Zul. Namun, yang terjadi saat dia bertemu Gamal. Perjodohan itu selalu ada, bukan, di manapun walaupun kita sedang melakukan kegiatan ibadah. Ya. Gamal dengan Maryam dipasangkan sebagai sejoli yang cocok. Sampai akhirnya Gamal mendadak menghilang dan menyatakan agama islam Ahmadiyah itu sesat.

Dari kejadian itu bertemulah dia dengan Alam, seorang pria bukan Ahmadiyah. Apakah disetujui oleh orang tuanya? Kalau setangkap saya disetujui, tetapi ya begitulah, orang tua alam ternyata memegang teguh bahwa ahmadiyah itu agama sesat. Jadi, pernikahan mereka tidak dihadiri orang tua Maryam.
Masalah bukan sampai itu. Keyakinan itulah yang membuat Maryam tidak disukai mertuanya.

Dicap sesat itu ternyata lebih menyakitkan daripada body shamming. I felt what Maryam did.
Dan tentu, Alam dan Maryam bercerai dan kembalilah ke saat ini, di mana Maryam mencari keluarganya.
Saat mencari keluarganya itu, keyakinan orang-orang kembali membinasakan pencarian Maryam. Keyakinan yang dianggap sesat itu juga mempertemukan Maryam dengan kisah cinta sejatinya.

Jujur saya bergidik ngeri melihat narasi mbak Okky dalam menggambarkan keyakinan yang mampu membinasakan sesama saudara seagama.
Alurnya maju-mundur jadi kita harus teliti saat membacanya. Bahasanya gampang dipahami. Namun, sayangnya, novel ini agak membosankan karena gaya ceritanya sedikit dialog. Jadi, kebanyakan penulis menceritakan situasi. Tapi, jumlah halaman yang gak smpai 300 sepertinya cocok dgn penceritaan seperti ini. Apalagi, saya nggak menemukan kenapa ahmadiyah dianggap sesat. Saya kira sampai akhir cerita saya menemukannya, tetapi tidak. Pada akhirnya pun seperti itu.

Saya akan rekomendasikan kalian yang suka dengan pertentangan keyakinan. Berikut ini kutipan yang saya temukan dalam novel Maryam karya Okky Madasari.

Pak Haji, siapa yang perlu bertobat? Saya dan keluarga saya atau orang-orang yang sudah mengusir kami dari rumah kami sendiri?”

Suami adalah imam seorang istri ketika sudah menikah nanti istri harus ikut suaminya, menuruti suaminya, apalagi dalam soal beragama.

Saya tidak akan banyak berkomentar. Novel ini cocok untuk kalian yang merasa keyakinan itu mampu membinasakan segala hal.