Kee(LI)ping Artikel,  Kee(LI)ping Kompetisi

Aplikasi Let’s Read Sebagai Bengkel Pikiran Untuk Berpetualang

Pandemi ini melibas semua rencana. Semua yang dipikirkan matang, harus dihempaskan dan disetarakan dengan kebutuhan pokok kita. Saya mengalami hal itu. Pandemi ini membuat rencana saya dengan sepupu kecil saya untuk berpetualang ke solo, menjelajah kota tua itu harus sirna.

Namun, tidak membuat saya dan sepupu saya mati kutu. Kami menemukan bagaimana mudah berpetualangan dengan cara lain.

Ya. Dengan membaca. Apalagi karena saya memang suka mengoleksi buku, memfoto beberapa buku dengan pernak-pernik cantik, dan akhirnya menarik minat sepupu saya untuk mencoba apa yang saya lakukan. Vania adalah salah satu sepupu saya yang setiap senin sampai jumat dia selalu singgah di rumah kami.

Ketika membaca, dia semakin tertarik karena buku yang dia ambil tidak hanya ada tulisan saja, tetapi gambar estetik itu menarik perhatiannya semakin dalam. Anak-anak selalu suka dengan segala hal yang unik dan memiliki estetika menarik di mata mereka.

Dia memang belum mampu membaca cepat. Dia masih terbata-bata ketika mengeja kata demi kata, tetapi bukan berarti adik saya ini tidak suka membaca. Dia suka sekali dengan mendongeng. Saat kelas satu, dia justru memenangkan lomba walaupun dia hanya mendapat juara harapan. Namun, itulah yang menjadi kebanggaan saya terhadap sepupu kecil saya ini.

Bagaimana bisa sepupu saya yang awalnya terbata-bata tetapi memiliki keberanian tampil di panggung seperti di atas?

Literasi.

Itu jawaban yang saya berikan mengenai kepercayaan dirinya yang begitu lantang mendongeng dengan boneka di tangannya.

Literasi dalam kamus Cambridge menjelaskan bahwa literasi selalu berkaitan dengan membaca dan menulis.Keberanian sepupu saya bukan hanya karena literasi, tetapi imajinasinya yang selalu dia miliki di bengkel pikirannya. Ada banyak perkakas yang sepupu saya lakukan untuk menyiapkan imajinasi keluar ke dunia sekitarnya. Dari sini, saya akan menjelaskan apa yang saya dapatkan dari mengelola bengkel pikiran untuk anak-anak. Namun sebelum itu, biarkan saya menjelaskan maksud dari bengkel pikiran.

Apa itu bengkel pikiran?

Imajinasi adalah bengkel tempat mendesain semua rencana rekaan manusia. Itu adalah tempat dorongan, hasrat, diberi bentuk, wujud, dan tindakan lewat bantuan kemampuan imajinatif pikiran.

Saya mendapat istilah bengkel pikiran ini dari buku yang saya baca. Buku tersebut berjudul “Think and Grow Rich” karya Napoleon Hill.

Dari buku itu, saya menjelaskan kepada diri saya, bengkel pikiran itu diperlukan untuk berimajinasi. Dan imajinasi menentukan keinginan saya untuk berpetualang dengan membaca.

Imajinasi itulah yang membuat saya juga semakin tertarik dengan banyak buku. Jika kalian melihat beberapa bookstagram yang saya posting setiap minggu di instagram, semua itu berasal dari imajinasi buku-buku yang saya baca.

Saya juga memiliki bengkel pikiran seperti sepupu saya lakukan. Bedanya saya tidak semudah itu bercerita seperti sepupu saya, tetapi saya bercerita melalui foto-foto ini untuk membuat orang-orang tertarik untuk membaca dan memahami berpetualang dengan membaca itu menyenangkan.

Menurut Napeleon Hill, imajinasi mirip dengan otot yang bisa bertambah kuat jika semakin sering digunakan.

Jadi yang harus dilakukan, saya dan sepupu saya menggunakan seluruh otot untuk menggerakan obeng, tang, kunci L, kompresor, dan beberapa perkakas bengkel lainnya agar bengkel kami tetap bekerja. Sehingga imajinasi kami tidak hanya dapat dikembangkan di satu area, tetapi juga mempengaruhi kreativitas di area lainnya.

Dengan mengasah imajinasi, saya dan sepupu saya bisa berpetualang lewat membaca. Seperti yang dilakukan oleh saya dan sepupu saya, Vania. Bengkel Pikiran inilah yang menjadi istilah saya kepada sepupu-sepupu saya untuk menjelaskan imajinasi mampu membawa kita berpetualang.

Kegunaan Bengkel Pikiran Terhadap Berpetualangan Membaca

Setelah mengetahui istilah yang saya buat terhadap orang suka berpetualangan dengan membaca, saya ingin mengatakan bahwa bengkel pikiran bukan hanya sebuah imajinasi biasa, tetapi membawa banyak kegunaan terhadap pola hidup manusia.

Dari makna yang saya jelaskan di atas, dapat kita sadari bengkel pikiran perlu diasah. Seperti halnya yang saya lakukan terhadap diri saya dan sepupu saya. Tanpa membaca, bengkel imajinasi justru tidak akan berfungsi maksimal.

Kita tahu imajinasi bahkan dipakai sampai dewasa kelak. Berkat kemampuan imajinasi, kita berhasil menemukan dan memanfaatkan lebih banyak hal yang ada di dunia ini.

1. Mendapatkan Banjir Bahasa Yang luas

Banjir tidak selalu dimaknai sebagai bencana. Dari membaca, imajinasi kita berkembang bahkan dalam memaknai kata seperti kata banjir ini. Nah, kegunaan bengkel pikiran adalah seperti ini. Kita mendapatkan banyak makna dari satu kata untuk kita simpan di bengkel pikiran kita.

Untuk mendapatkan banjir bahasa, yang diperlukan kita adalah dengan membaca. Dari membaca kita juga berpetualang untuk mengerti bahwa bahasa Indonesia tergolong banyak macamnya. Hal itulah yang menambah kesan menyenangkan bahwa di dunia yang luas ini kita bisa menjelajah tanpa harus melangkahkan kaki, tanpa harus berkorban materi.

Seperti halnya kata bengkel pikiran yang saya temukan di buku yang saya baca, seperti Vania yang mengembangkan nilai moral malin kundang untuk tidak membantah orang tua, dan seperti para bookstagram yang menggunakan buku untuk menyajikan foto buku yang cantik dan menarik minat–seperti yang saya lakukan.

2. Memiliki kekayaan cerita imajinasi luar biasa

Dari banyak kata dan bahasa yang disimpan di bengkel pikiran, kita bisa membentuk imajinasi yang luar biasa. Dari mana semua itu? Tentu dari banyaknya buku yang saya baca. Dari banyaknya buku, pikiran kita dengan cepat bisa menganulir dunia yang baru, seperti hal yang terjadi kepada anak-anak yang harus menerus belajar dengan online.

Dari kekayaan imajinasi hasil dari banyak membaca, anak akan mudah berpikir kreatif dan cepat tanggap. Menumbuhkan rasa menyenangkan terhadap membaca saat dini, mampu memberikan banyak manfaat termasuk dalam kemampuan pemahaman.

Semakin banyak buku yang dibaca anak, semakin mudah dia menerima dan memahami informasi yang baru. Mereka tidak akan gampang bosan ketika mendapatkan banyak bacaan hingga berlembar-lembar. Dan dengan mudahnya juga, mereka mampu menangkap makna dari bacaan tersebut tanpa kesulitan.

Dengan imajinasi, kita dapat melakukan lebih baik daripada hanya beradaptasi dengan lingkungan baru – kita dapat berkembang dengan membentuknya.

3. Memudahkan Anak menganalisis Diri dan percaya diri

Bengkel pikiran yang dibanjiri banyak kata dan bahasa, justru sangat baik untuk anak. Tujuan mengasah bengkel pikiran adalah membuat pemilik pikiran mampu menganailisi dirinya. Dia akan mudah berpikir untuk menentukan apa yang terbaik dan kurang baik terhadanya kelak. Anak juga jadi memiliki rasa percaya dalam menentukan sikap. Dengan kemampuan itu, kita sebagai orang dewasa akan semakin mudah menentukan yang terbaik untuk anak.

Saya percaya semua anak akan sukses. Karena kesuksesan atau kegagalan itu berasal dari kesadaran pikiran. Semakin banyak kata yang diserap di bengkel pikiran, semakin sadar pula pikiran anak untuk menentukan segala hal dalam hidupnya kelak.

Namun, bagaimana jika bengkel pikiran anak, seusia Vania mendadak tidak berfungsi benar?

Begitu Vania membuka buku atau saya ingin membaca, mendadak saya kehabisan cara dan terasa membosankan mencerna kalimat di dalam buku. Vania bahkan sudah melepas buku kesukaannya dengan menggantikan gawai pintar miliknya. Dia memilih bermain game, alih-alih mencari cara untuk menteralkan pikirannya.

Faktor Bengkel Pikiran Mendadak Tidak Beroperasi

Kita tahu Vania adalah anak umur 7 tahun, baru menjelajah kelas 2 SD. Apa bisa dia berpikiran seperti kita, para orang dewasa, yang memikirkan kita perlu jeda sejenak atau mencari kesibukan lain lantas kembali membaca buku.

Tidak. Vania justru tidak seperti itu. Imajinasinya mandek, berhenti, dan dia bosan. Gawainya lebih menarik perhatiannya. Bacaan yang dia sukai sudah terlepas dari tangannya selama dua minggu.

Saya memutar otak untuk membantu dia kembali suka dengan buku. Saya rindu dengan celotehan Vania mengenai banyak buku. Dan saat itu, saya mengetahui sebabnya.

1. Istilah ‘Reading Slump’ Bukan Hanya Untuk Bookish

Kita tahu bahwa seorang bookish pun kadang mengalami yang namanya reading slump. Apa sih reading slump?Istilah ini sudah menjamur di kalangan para bookish. Namun, saya akan menjelaskan sedikit apa itu reading slump.

Reading slump memiliki arti bahwa kita benar-benar tidak bisa sama sekali masuk ke dunia buku. Saat membaca pun, rasanya kata-kata di dalam buku hanya lewat saja tanpa kita tahu maksud dari maknanya. Kita ingin membaca banyak buku, tetapi begitu membuka halaman, yang kita lihat kata-kata itu tidak bisa lagi kita cerna.

Apa bisa kejadian ini juga untuk yang bukan seorang bookish atau semua orang?

Bisa.

Apa yang dialami Vania saat ini adalah reading slump. Dia tidak bisa lagi mencerna buku dongeng yang dia sukai. Bahkan, sudah jarang sekali saya melihat Vania kembali menceritakan ulang cerita rakyat malin kundang, cerita kesukaannya. Kita menganggap reading slump itu terjadi hanya para bookish.

Orang tua menyepelekan kalau reading slump tidak mungkin terjadi juga pada anak-anak di bawah 13 tahun. Kenyataannya, reading slump itu terjadi pada siapapun. Termasuk anak saat membaca buku pelajaran dan merasa tidak sanggup memaknainya, itu bisa dikategorikan sebagai reading slump.

2. Pencitraan Imajinasi dengan Pengetahuan disalahartikan

Banyak orang tua atau orang dewasa berpikir berimajinasi itu hanya membuang-buang waktu terhadap perkembangan anak. Padahal dari berimajinasi anak akan memiliki sikap potensial untuk mengembangkan keyakinan diri. Hal ini juga akan berpengaruh ke masa depan anak.

Sebelumnya saya sempat juga berpikir, bahwa berimajinasi itu membuang-buang waktu. Namun, pernyataan itu sudah berlalu beriringan dengan banyaknya buku yang saya baca. Sebelum berkenalan dengan buku lebih dalam dan ikut banyak komunitas buku, saya berpikir membaca buku pengetahuan justru yang meningkat kualitas pola pikir kita. Sedangkan buku-buku fiksi, hanya akan membuat kita berimajinasi lantas berhalu tidak jelas.

Padahal di dunia nyata, sedetikpun kita dituntut untuk sadar mengatasi realitas hidup, bukan?Sampai akhirnya, sebuah base di twitter memberikan artikel dari sumber guardian dengan tajuk “why reading fiction creates good leaders?”.

Saya terketuk untuk membuka tautan tersebut. Artikel tersebut menyatakan bahwa, โ€œUntuk menulis laporan yang baik atau memimpin proyek yang hebat, departemen yang hebat atau bahkan perusahaan membutuhkan kemampuan untuk mengekspresikan ide dengan kata-kata dalam berbagai cara, untuk menyesuaikan dengan audiens, untuk memahami sudut pandang orang lain dan untuk hindari jargon. Membaca fiksi membantu kemampuan ini berkembang jauh lebih baik daripada bentuk lainnya.

Jadi, boleh saja kita sebagai orang tua memilah-milah buku untuk anak, tetapi biarkan anak dahulu menentukan minatnya. Biarkan tangan itu menarik sendiri plastik dari buku baru, membuka sampulnya, lantas biarkan dia terhanyut dengan imajinasi sampai akhirnya dia mendapatkan pengetahuan baru dari buku yang dia pilih.

Bagi saya, perkakas bengkel digunakan oleh si pemilik bengkel, bukan dari pemilik kendaraan. Karena hanya pemilik bengkel yang tahu mana yang pas untuk memperbaiki kendaraan milik orang lain.

3. Hanya Fokus Menjadi Rekan Hebat

Menjadi rekan hebat memang berguna dalam menentukan bagaimana anak akan berpetulangan dengan membaca. Akan tetapi, menjadi rekan hebat saja tidak cukup bila kita tidak atraktif.

Rekan hebat hanya membantu anak untuk menentukan dan mengawasi bagaiamana buku itu bekerja. Namun, menjadi rekan atraktif, justru menambah tujuan dari membaca. Karena tujuan membaca sendiri adalah memberikan rasa senang ke anak sehingga dia bisa berpetualang dengan menggunakan bengkel pikirannya.

Keatraktifan kita terhadap buku dapat menular kepada anak. Sehingga anak akan semakin terpacu untuk memahami berpetualang dengan membaca itu menyenangkan.

4. Menyalahartikan Penggunaan Gawai

Kita tahu Vania dan mungkin temannya sedang berusaha keras menghadapi kehidupan baru di situasi pandemi saat ini. Belajar daring, bermain daring, semuanya serba daring.

Sampai pada akhirnya, kita sebagai orang dewasa tidak tahu bedanya anak kita menggunakan gawai itu untuk apa. Entah dia belajar, mengerjakan PR, menonton video, bermain gim atau apa?Lantas orang tua semakin skeptis sehingga memberikan peraturan ketat terhadap penggunaan HP kepada anak.

Di sini letak kesalahpahaman antara orang tua, anak, dan gawai. Semestinya peraturan tidak menggunakan gawai bukan membatasi penggunaannya. Karena itu hanya membuat anak semakin tidak bisa berkembang di era hidup new normal ini. Jangan menyalahartikan penggunaan gawai. Kita sebagai orang dewasa justru memberikan jalan yang benar dalam interaksi anak dengan gawai.

Aplikasi Let’s Read Adalah Produk Dari Bengkel Pikiran

Faktor terakhir dari bengkel pikiran tidak berfungsi baik merupakan masalah yang selalu ditemui oleh orang dewasa setiap hari. Penggunaan gawai selalu disalahartikan jika anak sedang menggunakannya. Sehingga orang dewasa menggunakan peraturan berupa pembatasan ketat terhadap penggunaan gawai.

Padahal di dalam gawai, anak justru menemukan banyak hal. Seperti aplikasi yang mampu mengasah bengkel pikiran. Saya menemukannya ketika saya tengah mencari-cari beberapa aplikasi yang memudahkan saya menemukan dongeng-dongeng masa kecil saya. Sampai akhirnya, saya menemukan aplikasi Let’s read di laman twitter saya dan salah satu rekomendasi teman blogger saya.

“Coba kamu review cerita-cerita di aplikasi let’s read. Terus bikin beberapa foto buku yang ada di aplikasi Let’s Read.”

Dan di bawah ini adalah petualangan saya dengan beberapa foto buku di aplikasi Let’s Read.

Aplikasi Let’s Read merupakan sebuah karya yang dicetuskan oleh The Asia foundation. Aplikasi ini diperuntukkan kepada pembaca dari keterampilan penulis dengan menggunakan illustrator lokal. Tujuan pembangunan aplikasi ini semata-mata untuk membangun satu-satunya perpustakaan digital dan menawarkan bahwa tujuan membaca itu menyenangkan.

Dari saya yang mulai ketagihan dengan cerita-cerita bergambar di aplikasi Let’s Read, saya pun merekomendasikan aplikasi ini kepada orang tua sepupu saya. Aplikasi ini sangat membantu mereka yang ingin mengakses buku bacaan di masa pandemi ini. Kita tahu anak-anak bahkan tidak bisa belajar bertatap muka, maka untuk datang ke perpustakaan pun sukar dilakukan.

Sedangkan membaca bahwasannya menjadikan bengkel pikiran kita mampu terus berimajinasi hingga memberika anak kreativitas yang luas terhadap dunia.Aplikasi ini mudah digunakan. Kita bisa mengunduhnya hanya di play store. Atau menggunakan tautan Let’s Read ini agar semakin cepat mengunduhnya.

Apa Yang Ada Di Aplikasi Let’s Read

Di aplikasi ini kita akan banyak menemukan kehandalan yang dilakukan The Asia foundation dalam membangun tujuan membaca itu menyenangkan.

1. Pendaftaraan yang sekali klik

Apakah menggunakan pendaftaran? Iya. Namun, bukan pendaftaran seperti perpustakaan daerah pada umumnya. Seperti harus membawa foto, fotokopi identitas diri dan menulis form pendaftaran. Tidak. Aplikasi ini dibuat secanggih mungkin. Hanya satu kali klik dengan pemilihan banyak bahasa, kita akan dengan mudah mendaftar. Di bawah ini adalah gambar sederhana yang saya buat untuk memudahkan pembaca blog ini mendaftar.

2. MultiBahasa

Kebahagiaan saya pada aplikasi ini adalah fitur beragam bahasa. Tidak hanya bahasa inggris, bahasa Indonesia, atau bahasa dari negara lainnya. Saya menemukan bahasa sunda, jawa, dan banyak bahasa lainnya.

Bengkel pikiran akan semakin berkembang bila beragam bahasa itu dimanfaatkan untuk beragam kehidupan kelak.

3. Dapat digunakan online/offline

Dari menghemat waktu, dari beragam bahasa daerah di aplikasi ini, dan sekarang ada kemudah yang membuat kantong keuangan kita tidak tergerus untuk selalu membeli paket internet.

Ada fitur unduhan yang memudahkan kita akan membaca nanti atau kapan pun.Apakah ada batasannya? Saya rasa tidak. Kita bisa mengunduh sepuasnya dan memasukan ke perpustakaan kita sendiri. Aplikasi ini memang hebat dalam membantu kita memperoleh petualangan membaca.

4. Dapat Mengukur Besar/kecil huruf

Banyak di antara penggemar buku suka sekali denngan buku fisik. Namun, perlu diketahui buku fisik tidak dapat kita ubah jenis tulisan atau memperbesar tulisan. Namun, dengan buku nonfisik, kita mampu mengubah ukuran atau gaya huruf. Dan saya menemukannya di aplikasi Let’s read. Kita bisa mengubah gaya huruf dan memperbesar atau memperkecil huruf. Hal ini juga membantu kesehatan mata terhadap anak.

Bengkel pikiran juga memerlukan kesehatan fisik agar anak mampu terus berpetualangan dengan bacaannya.

5. Banyak Ragam Cerita Rakyat Indonesia

Satu hal yang membuat saya sangat senang dan merekomendasikan ini kepada orang tua Vania adalah ragam cerita rakyat indonesia ada di aplikasi Let’s Read ini.

Ada kisah malin kundang, timun mas dan dewi sri. Sayang sekali tidak terlalu lengkap cerita rakyat Indonesia. Mungkin ke depannya, Let’s read akan menambahkan banyak cerita rakyat Indonesia sehingga anak Indonesia tahu bahwa cerita rakyat milik indonesia juga tidak kalah bagus.

Keunggulan dari aplikasi let’s read dapat menjadi cara memperbaiki bengkel pikiran anak yang mendadak mandek atau terasa tidak berfungsi maksimal.Seperti yang kita tahu, membaca itu perlu kosentrasi yang tepat. Anak kadang-kadang merasa kosentrasi mereka terpecah karena buku yang dia baca kurang menarik lantas beralih ke gawai. Sayangnya, penggunaan gawai mereka diperuntukkan untuk bermain gim dan menonton video kesukaan mereka.

Namun begitu mengenal aplikasi let’s read saya yakin bahwa anak mendapatkan banyak manfaat. Sebab aplikasi ini tidak hanya memberika kualitas pengetahuan tetapi hiburan visual yang menarik minta mata anak.

Cara memperbaiki imajinasi di bengkel pikiran kita dengan aplikasi Let’s read

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, aplikasi ini banyak sekali kegunaan. Bukan hanya menumbuhkan minat membaca dengan tambahan gambar visual yang menarik mata anak, tetapi keunggulan belajar bahasa. Sehingga bengkel pikiran anak akan secepat mungkin menangkap banyak kisah. Anak juga mampu berpetualangan dengan imajinasinya.

Saya tidak akan diam saja kalau menemukan aplikasi terbaik seperti Let’s Read. Apalagi aplikasi ini sudah diprogram untuk tumbuh kembang pola pikir anak. Lantas bagaimana caranya saya mengabadikan semua bacaan di aplikasi Let’s Read terhadap bengkel pikiran?

1. Berlatih beragam Bahasa

Saya sebelumnya sudah memberikan penjelasan kegunaan bengkel pikiran adalah untuk mendapatkan banjir bahasa. Nah, dengan menggunakan aplikasi let’s read, kita akan mudah menemukan cara terbaik berlatih bahasa.

Dengan memahami gambar, anak akan lebih mudah menangkap suatu makna. Cerita bergambar adalah salah satu yang menarik hati. Bagi saya melihat adalah mempercayai. Yang dilakukan anak kepada cerita bergambar adalah mempercayai gambar itu memiliki kesamaan kata yang belum dia mengerti.

Objek visual itulah yang membuat anak merasa melihat sesuatu yang sangat dia percayai.

Setelah anak memahami maksud dengan melihat visual, saya akan membantu mereka untuk memahami bahwa beragam bahasa. Tidak mungkin untuk Vania saya langsung memberikan tata bahasa. Mungkin lebih ke vocabulary baru untuk dicatat oleh Vania.

Dan ketika menemukan aplikasi ini, saya ingin mencoba untuk melatih bahasa inggris dengan sebuah gambar yang ada di dalam aplikasi Let’s read. Dengan latihan ini, saya yakin banyak anak semakin memiliki kemampuan dalam bercakap beragam bahasa.

2. Bercerita atau Mendongeng Dengan Aplikasi Lets read

Memahami ragam bahasa, sudah. Sekarang bagaimana jika membantu anak lebih percaya diri untuk menceritakan apa yang anak telah baca.

Gunakan aplikasi Let’s read. Setelah itu, latih mereka untuk berdiri di depan. Berikan mereka kesempatan untuk memilih cerita, dan tanyakan apa pun mengenai cerita yang dia baca. Buat anak-anak senang dengan menceritakan ulang kisah itu. Setelah itu, jangan lupa untuk memberikan pujian.

Saya akan lakukan hal yang sama kepada semua sepupu saya. Karena dewasa ini, kita sudah dipermudah oleh The Asia Foundation untuk melatih cara menemukan rasa percaya diri kepada anak. Dengan aplikasi Let’s read, kita tidak perlu takut bengkel pikiran anak akan mandek, karena aplikasi ini adalah produk hebat yang dipersiapkan untuk bengkel pikiran anak.

3. Tidak melabel-labelkan sebuah bacaan.

“Read. Read. Read. Read everything–trash, classics, good and bad – William Faulkner”

William adalah seorang penulis pemenang nobel sastra. Apa yang dia katakan kepada pembaca itu benar adanya.

Dewasa ini saya memahami banyak bacaan buku, jatuh cinta dengan tokoh fiksi, dan membenci alur yang menyakiti hati dan tokoh di dalam cerita. Saya membaca semua buku, baik itu buku klasik, buku non best seller, atau apa pun, seperti yang dikatakan William Faulkner. Saya percaya dengan apa yang dikatakan william, tetapi tetap harus kita saring untuk kebaikan anak.

Namun dengan aplikas let’s read, semestinya tidak ada masalah dalam menentukan cerita mana yang baik untuk anak. Tidak peduli cerita itu masuk dalam kategori buku unggulan di aplikasi Let’s read. Karena bagi saya, aplikasi let’s read selalu menyajikan banyak cerita yang berbobot.

Jadi, melabel-labelkan sebuah bacaan di aplikasi let’s read tidak ada gunanya. Justru aplikasi ini yang memberikan langkah-langkah mudah untuk memahami cerita.

Pada intinya semua orang tua ingin anak memiliki tingkat imajinasi yang tingkat. Kita sebagai orang dewasa pun memahami imajinasi itu diperlukan bahkan sampai dewasa nanti. Saya masih memerlukan imajinasi walaupun di dunia kerja. Karena tanpa itu, bagaimana kita bisa melangkah dan berpetualangan.Imajinasi memerlukan cara yang terbaik.

Cara itu adalah memperbanyak bacaan. Kita harus mulai mengerti membaca adalah kunci untuk menjalankan bengkel pikiran. Sedangkan aplikasi let’s read adalah produk yang tepat untuk menjalankan bengkel pikiran anak agar setiap saat selalu berkembang semakin pesat.

Seperti ini ulasan saya dari salah satu produk bengkel pikiran, yaitu aplikasi let’s read. Aplikasi Let’s Read benar-benar mudah sekali digunakan.

Sumber :

  • Hill, Napoleon.2019.Think and Grow Rich. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
  • https://amp.theguardian.com/books/2020/aug/19/why-reading-fiction-creates-good-leaders?utm_term=Autofeed&CMP=twt_gu&utm_medium=&utm_source=Twitter&__twitter_impression=true
  • https://reader.letsreadasia.org/about