Ke(E)ping Buku

[Ke(E)ping Buku] Novel Bilangan Fu Oleh Ayu Utami

“Katanya rahmat bagi semesta, tapi mereka malah sibuk menyerang, mengkafirkan orang, bahkan saling berkelahi sendiri.”

Judul : Bilangan Fu

Penulis : Ayu Utami

Genre : Romansa, Politik, Sejarah

Penerbit: PT. Kepustakaan Populer Gramedia

Jumlah Halaman : 548 halaman

Rating Goodread : 3.88 / 5

Ratingku : 4.0 / 5


Sinopsis Novel

Yuda, “si iblis”, seorang pemanjat tebing dan petaruh yang melecehkan nilai-nilai masyarakat. Parang Jati, “si malaikat”, seorang pemuda berjari duabelas yang dibentuk oleh ayah angkatnya untuk menanggung duka dunia.

Marja, “si manusia”, seorang gadis bertubuh kuda feji dan berjiwa matahari.Mereka terlibat dalam segitiga cinta yang lembut, di antara pengalaman-pengalaman keras yang berawal dari sebuah kejadian aneh– orang mati yang bangkit dari kubur– menuju penyelamatan perbukitan gamping di selatan Jawa.

Di antara semua itu, Bilangan Fu sayup-sayup menyingkapkan diri.Pengarang menamai nafas novelnya “spiritualisme kritis”. Yaitu, yang mengangkat wacana spiritual– keagamaan, kebatinan, maupun mistik– ke dalam kerangka yang menghormatinya sekaligus bersikap kritis kepadanya, yang mengangkat wacana keberimanan, tanpa terjebak dalam dakwah hitam dan putih.Novel ini adalah manifesto Ayu Utami tentang sebuah sikap yang dianggap perlu diutamakan di zaman ini: sikap religius ataupun spiritual, yang kritis.

Ulasan Novel Bilangan Fu

Membaca sinopsis di atas membuat pembaca tertarik bukan?

Tunggu sebentar.

Mbak Ayu Utami tidak akan membuat pembaca segampang itu memahami semua novelnya dengan hanya membaca dari sinopsisnya. Dan ya, saya pun mengambil buku ini karena tertarik membaca sinopsis di belakang novel. Dan setelah membaca …

Kalian akan mendapat lanjutan bagaiaman perasaan saya ketika membaca ulasan saya di bawah ini.Mbak Ayu Utami memang hebat bila ingin mengkritik sesuatu dengan sebuah kata. Itulah yang membuat saya memilih untuk membeli buku ini, karena di dalam novel ini, saya mendapatkan banyak pengetahuan.

Sejak awal membaca, saya masuk ke dalam teka-teki yang membuat pemikiran saya penuh dengan banyak teori. Novel ini bukanlah novel fiksi biasa, tetapi novel fiksi yang kaya dengan pengetahuan. Seakan-akan, membuat pembaca disogok untuk mengenal tiga babak dalam kehidupan.
Saya bertemu dengan dua tokoh pria di dalam novel ini. Yuda dan Jati. Dua pria yang memiliki watak berbeda dalam memahami sebuah pemaknaan panjat tebing yang sesungguhnya. Sosok Yuda yang selalu ingin bertaruh, mempertemukan dia dengan pria bernama Jati.

Saat itulah, Yuda semakin tertarik dengan keanehan fisik Jati dan kehidupan Jati. Jati yang memiliki dua belas jari dan memegang aliran pemanjat bersih tanpa sekalipun harus menggoreng tebing untuk merusak alam. Penggambaran fisik jati yang sebenarnya membuat kita ditarik untuk memahami apa maksud dari judul novel ini.
Ditambah novel ini seakan membawa kita ke dalam tiga babak kehidupan.

Awal babak, kita diajak berhubungan dengan Modernisme. Dari Jati dan Yuda, kita diajak mengkritik kisah takhayul yang disandingkan dengan modernisme saat ini. Bagaimana di zaman modern ini, masih banyak sekali kisah takhayul diceritakan oleh banyak warga. Kita akan mengenal apa makna Takhayul dengan Modernisme bisa bersanding di setiap zaman.

Dua babak kemudian, pembaca akan disuguhi kisah agama monoteisme. Di sini kita mengenal beberapa tokoh lagi, yang pasti tokoh ini berhubungan dengan Parang Jati. Sosok yang dinamai kupukupu ini adalah seseorang yang memahami bahwa Tuhan itu memang satu. Sedangkan melakukan sesajen dan lain-lain adalah maksiat. Sedangkan Parang Jati yang mengemukakan pendapat berbeda. Dia mengatakan hal yang berbeda. Dan di sinilah saya setuju dengan parang jati.

Bagaimana tidak. Dia menyamakan manusia yang membayar pajak bukan berarti mereka adalah penyembah negara. Dan itu sama halnya dengan memberi upeti sesajen kepada makhluk halus. Bukan berarti upeti sesajen itu membuktikan bahwa mereka penyembah mahkluk halus? Di moniteisme, pembaca tidak hanya diberikan gambaran mengenai kritik agama monoteisme, bahkan pembaca disuguhi sejarah kisah Nyi Roro Kidul dengan Raden susuruh. Bagaimana mbak Ayu Utami menjeleskan siapa sebenarnya Nyi Roro Kidul. Dan tentu, kita diajak untuk memahami satu buku, yang saat ini menjadi wishlist saya, Babad Tanah Jawi.

Setelah selesai dengan monoteisme, parang jati dan Sandi Yuda tidak hanya memberikan dua babak kehidupan itu. Kita mendapat satu babak lagi di novel ini. Militerisme.Apa yang terjadi pada akhirnya semua memang memerluka sikap militer. Dan inilah yang menjadi awal dan akhir sebuah pertemuan antara Parang Jati dan Sandi Yuda. Di sinilah semua itu mendaoatkan jawab. Di babak militer, yang seakan membuat saya berpikir, apa semuanya harus berdasarkan kekerasan untuk menemukan kebenaran? Ya. Saya menemukan semua jawaban atas pertanyaan Yuda dengan Bilangan Fu dan kisah hidup parang Jati.

Memang novel ini lebih mengarah ke nonfiksi ketimbang fiksi. Namun, karya Ayu Utami lah yang membuat saya menyukai diksi novel fiksi yang dibuat seakan nyata untuk mengkritik apa pun yang ada di dunia ini.Dan itulah yang saya temukan di novel ini.Mungkin saya adalah pembaca yang mengambil buku ini karena kisah cinta segitiga antara Sandi Yuda, Marja dan Parang Jati. Namun, kisah cinta yang dibalut kisah erotis ini memang nggak semuanya erotik. Kalian pasti bingung dengan maksud ini, tetapi ketika membaca kalian akan menyadari bagaimana sebenarnya, kisah tiga orang ini mirip dengan threesome yang sering dilakukan oleh para pecinta seksual.

Banyak diksi erotis tetapi dikemas baik tanpa menunjukkan kepornoan dalam gaya cerita di novel ini. Saya nggak akan menjelaskan terlalu dalam mengenai kisah romansa mereka, tetapi saya ingin pembaca tahu, novel ini mengandung banyak sekali makna ganda bahkan ketika mereka bertiga berkumpul di satu tempat. Sehingga memerlukan banyak sekali tenaga untuk menghabiskan novel Bilangan Fu. Pembaca nggak akan menenukan romantisnya Yuda dengan Marja atau perselingkuhan Marja dengan Parang Jati atau tentang kisah cunta terpendam antara parang Jati dengan Sandi Yuda.

Terlalu banyak makna dari kisah cinta segitiga di novel ini. Karena itulah menariknya dari buku Ayu Utami.Saya suka dengan sindiran perumpamaan di novel ini. Kita seakan dikasih banyak teori pengetahuan mengenai cara mengkritik sesuatu yang benar dan bagaimana sebuah kritik itu juga mampu membunuh seseorang.

Berikut ini kutipan yang akan membuat kalian semakin yakin untuk membaca buku Bilangan Fu milik Ayu Utami ini.

Setiap batu tertatah sejarah bumi

Ya aku berani taruhan. Rakus, rusak dan raksasa memiliki akar yang sama.

Sebab yang tidak ada bagi kita adalah sudah mati bagi kita. Meskipun masih hidup.

Cari itu dengan badan bukan dengan pertanyaan.

Orang negeri ini lebih memilih ketenangan daripada kebenaran.

Kejahilan melibatkan kecerdikan dan kretivitas.

Pemukulan semata-mata kekerasan.

Pada setiap hal kesederhanaan, sesungguhnya ada kompleksitas.

Ujian yang adil adalah yang ditetapkan dengan persetujuan yang diuji.

Belakangan ini orang mau mengganti kata dissable menjadi diffable.

Kata seperti narasi, berjalan bersama waktu. Ada awal, tengah, akhir. Ada ketegangan klimaks, resolusi, ada paradoks, pengorbanan, dan perdamaian. Itu struktur yang dimengerti suatu lapisan batin iita.

Kebenaran itu selalu future tense. Kabaikan selalu present tense, sayangnya bahasa kita tidak mengenal penanda kala.

Saya hanya menangkap kutipan di atas ini, tetapi saya yakin, dari kutipan ini kalian semakin penasaran dengan kisah Marja, Yuda, dan Jati.