Ke(E)ping Buku

[Ke(E)ping Buku] Novel Raumanen Oleh Marianne Katoppo

Kasihmu bagiku akhirnya hangus juga di muka sorotan ganas berhala kaum adat.

Judul : Raumanen

Penulis : Marianne Katoppo

Genre : sastra roman klasik

Jumlah halaman : 135 halaman

Penerbit : Grasindo

Cetakan Buku : Januari 2018


Sinopsis Novel

“Raumanen seorang gadis cantik, rajin, independen. Monang seorang pemuda flamboyan, doyan pesta, bermobil sedan mengkilap mewah merek Impala. Raumanen orang Manado, Monang orang Batak, walaupun keduanya besar di Jakarta.

Tentu saja mereka jatuh cinta. Perasaan yang menyusup perlahan-lahan dan baru mereka sadari setelah menjungkirbalikkan semuanya di dunia mereka.”

Ulasan Novel

Novel ini menceritakan kisah romansa antara Raumanen dengan Monang. Sosok Reumanen yang berasal dari Menado sedangkan Monang yang  berasal dari Batak. Mereka berdua memilik sifat yang bertolak belakang. Manen yang terlalu cerdas dan dicap sebagai sosok perempuan baik-baik saja harus bertemu dengan Monang yang berperilaku sebagai pemuda flamboyan, doyan berpesta-pesta dan seorang insinyur yang playboy. Mereka bertemu di antara kisah romansa sederhana tetapi terhalang adat istiadat.

Begitu membuka novel ini, saya sudah mendapatkan dua sudut pandang, sundut pandang pertama dan ketiga. Untuk yang pertama, digunakan terhadap sudut Manen dan Monang di masa sekarang, sedangkan sudut pandang ketiga adalah sebuah kisah yang mengantarkan kita ke masa lalu mereka.

Novel setipis ini dengan konflik yang menurutku berat berhasil membuat saya terpesona karena kenyataannya semua bahasa daerah di Indonesia termasuk adat istiadatnya begitu indah dan beragam. Namun, konflik di novel ini juga yang membuat saya harus menelan ludah pilu bahwa adat istiadat jugalah yang berhasil membuat jarak untuk dua insan yang tengah jatuh cinta, seperti Manen dan Monang.

Adat Batak lah yang masih kentara di keluarga Monang, sedangkan di keluarga Manen, mereka berhak untuk memgambil keputusan tanpa harus mengikuti adat istiadat Minahasa. Dari konflik Monang yang diharuskan menikah dengan garis keturunannya, disitulah terjadi satu konflik yang membuat saya menangis pilu.

Well, penggambaran wataknya jelas sekali. Aku suka dengan Manen yang keras dan berpendidikan, tetapi saat jatuh cinta dia seakan kalah dengan semua kecerdasannya. Watak Monang pun terlihat jelas menjengkelkan ketika saya membaca buku ini. Penulis berhasil membawa saya terpengaruh kejengkelan Monang dan hampir percaya bahwa Monang bermain-main dengan Manen dan Manen terlalu bodoh memberikan semua hal tentangnya kepada Monan.

Hubungan mereka sudah intim. Awalnya saya sudah senang ketika Monang berhasil membeli rumah dan diperuntukkan kepada Manen. Awalnya sih, tetapi lagi-lagi, saya dibuat jengkel dengan sikap plin-plannya. Ya. Akhirnya adat istiadatlah yang membuat mereka berpisah di saat satu insan mendadak hadir di dalam tubuh Manen.

Namun, karena saya belum pernah mendengar gaya bahasa daerah sulawesi, Setiap membaca, gaya bahasanya terlalu kaku, sehingga membuat saya kebingungan ketika beberapa tokoh tengah berbincang. Bukan berarti novel ini tidak memberikan informasi mengenai bahasa daerah yang belum pernah dibaca oleh pembaca seperti saya. Karena setiap saya membaca kata daerah yang asing, Ibu Marianne memberikan informasi di bagian bawah novel ini. Jadi sekalian, menambah wawasan bahasa daerah bila kalian membaca buku ini.

Bukan hanya menambah wawasan, karena kita mendapatkan kutipan novel Raumanen Karya Marianne Katoppo yang sangat berharga.

Bagi mereka Indonesia itu bukan cuma suatu istilah kosong saja, yang dapat sewaktu-waktu didesak oleh kesetiaan yang berlebihan pada peninggalan leluhur Minahasa.

Bukankah sekarang kita semuanya orang Indonesia? Apakah manusia sendiri berwenang menentukan suku bangsa kelihatannya? Dan apa gerangan yang menjadikan suku bangsa yang satu lebih bermutu, lebih Indonesia dari yang lain?

“Aku belum bersedia,” pikir Manen. “aku masih terlalu hijau untuk dibakar oleh nyala cinta itu.”

“Mertua rewel terdapat pada semua suku bangsa.” Kata Manen.

Padahal dulu bahasa menjadi kegemaranku. Selalu ingin kupelajari, karena bukankah bahasa mencerminkan jiwa bangsa yang memakainya?

Karena Ibu Monang sudah menjadi Nyonya terlebih dahulu.

Kau harus belajar bahwa mustahil kita dukung seluruh dunia di atas bahu kita.

Jadi, menurut saya, novel yang dicetak ulang ini benar-benar wajib karena berhasil memberikan wawasan baru untuk saya sebagai seorang pembaca.