Ke(E)ping Buku

[Ke(E)ping Buku] Novel Warcross Oleh Marie Lu

“Semua hal adalah fiksi ilmiah sampai seseorang menjadikannya fiksi ilmiah.”

Judul : Warcross

Penulis : Marie Lu

Penerjemah : Nadya Andwiani

Genre : Fantasi, Sci-Fi, Romance, Action.

Jumlah Halaman : 472/20.5cm

Penerbit : Mizan Fantasi


Sinopsis Novel

Emika Chen meretas The International Warcross Championship dan aksinya itu membuat game mengalami malfungsi. Bukannya dipenjara, Emika malah ditawari menjadi mata-mataoleh Hideo Tanaka, sang pencipta Warcross. Tanaka ingin Emika menjadi bounty hunter, melacak pemain warcross yang bertaruh secara ilegal. Tak disangka, penyelidikannya menguak sebuah plot jahat yang bisa menghancurkan tak hanya warcross, tapi juga tahanan duniam

Ulasan Novel Warcross

Novel ini adalah novel berseri dualogi. Jadi, yang saya baca dan ulas saat ini adalah novel pertamanya. Novel pertama berjudul Warcross dan novel kedua berjudul Wildcard.

Pertama, saya akan memperkenalkan kisah Emika Chen yang terdampar di sudut kota NewYork dengan kehidupan penuh lilitan hutang akibat tidak membayar sewa apartemennya. Awalnya kehidupan Emika yang semestinya masih menikmati masa remaja terpaksa harus berjuang seorang diri untuk memenuhi kehidupannya yang hampir terusir dari apartemennya. Semua itu nggak akan terjadi bila ayahnya tidak meninggal dunia dan meninggalkan hutang di dark web.

Menurut saya, dari kehidupannya seperti itu, saya suka bagaimana penulis menjelaskan sosok Emika menjadi gadis yang kuat, tegar, berani dan cerdas. Kecerdasannya terhadap teknologi justru yang membawa dia kepada keberuntungan.

Saat itu, di dunianya terdapat permainan dinamakan Warcross. Permainan ini diciptakan dengan antarmuka neurokomputer terbaik yang pernah dibangun. Sebuah kaca mata ramping. Neurolink, yang mana otakmu terbantu memvisualkan sebuah world virtual yang audiovisualnya tak dapat dibedakan dari realitas. Dari kecerdasan yang Emika kuasai terhadap teknologi itulah, justru membawa dia ke keberuntungan. Awal mulanya terjadi ketika keinginan untuk terlepas dari menunggak uang sewa apartemennya, membawa Emika ingin meretas warcross untuk mengambil Suden Death. Ternyata apa yang Emika lakukan menimbulkan glitch besar sehingga dia tertangkap basah.

Dari sinilah konflik utama itu muncul. Kejadian tertangkap basah tersebut yang membawa Emika menemui Hideo, si pencipta Warcross. Dari sanalah, keberuntungan itu melenyapkan lilitan hutang tentang menunggak uang sewanya. Namun, bayaran akan keberentungannya harus ditebus dengan membantu Hideo menemukan Zero, si peretas yang menjadi incarannya.

Dan berkat Hideo juga, dia bisa berpartisipasi ke dalam Wardraft sebagai Wild Card. untuk pertama kalinya dalam hidup Emika, dia bukan hanya menonton, tetapi ikut bermain dengan menjadi anggota tim Phoenix Riders. Anggota ini terdiri dari, Asher, Roshan, Ren, dan Hammie.

Dengan ikut berpartisipasi, Emika bisa mencari cara untuk menemukan siapa Zero sehingga dia bisa membalas budi kebaikan dari Hideo. Dari balas budi dan sering pertemuannya dengan Hideo, sesuatu tengah ada di tengah-tengah mereka, yaitu perasaan. Semakin lama Hideo juga menyadari bahwa dia merasa nyaman dengan Emika.

Konflik utama di novel ini adalah menemukan siapa Zero dan membongkar asal usul dari tujuan pembuatan permainan ini. Dari konflik itu, saya merasakan penasaran sampai rasanya nggak bisa berhenti membaca. Belum lagi, aku benar-benar bisa membayangkan bagaimana aksi Emika dengan teman-teman saat bermain Warcross.

Untuk terjemahannya, saya sama sekali nggak masalah. Justru saya menikmati sekali bagaimana tokoh-tokoh di dalam novel ini beraksi. Hanya saja, saya agak sebal dengan Emika saat bumbu cinta itu muncul dan membuat dia hampir kalah saat bermain Warcross, padahal sebelum bertemu Hideo, dia sudah mendapatkan banyak masalah dan dengan hebatnya dia masih tegar, tetapi ketika cinta itu bersemi justru membuat karakter Emika jadi gadis yang agak lemah, gak setegar sebelum dia ke Tokyo.

Ada banyak plot twist yang nggak dapat saya tebak. Bahkan sampai mau mendekati bab akhir, saya belum bisa menebak siapa itu Zero. Saya sempat menebak Zero itu nggak ada, karena Zero adalah Hideo. Dia ingin menghancurkan warcross, tetapi ketika hampir membaca sampai bagian akhir, tebakan saya salah. Pokoknya nggak bisa ditebak siapa itu zero sampai kamu benar-benar berada di halaman paling akhir.

Dari teka-teki zero, kekompakkan Phoenix Riders,  dan bagaimana Emika diremehkan karena dia menang keberuntungan daripada ketangkasannya untuk masuk wildcard(padahal dia sangat jago banget) yang membuat novel ini punya nilai plus buat saya dan mungkin kamu juga.

Kutipan ini mungkin bisa jadi tambahan mengapa kalian wajib membaca novel Warcross.

“Maut memiliki kebiasaan buruk, yaitu langsung menebus setiap skenario yang kau rancang dengan hati-hati antara masa kini dan masa depanmu.”

“Semua orang di dunia terhubung dalam sejumlah cara dengan orang lain.”

“Ada banyak hal yang tidak kalian pahami. Ketika ada jauh lebih banyak yang dipertaruhkan daripada sekedar kejujuran, maka iya ini memang cuma permainan.”

“Algoritma tidak punya ego. Tidak mendambakan kekuasaan. Ia diprogram hanya untuk melkukan hal yang benar, untuk bersikap adil. Sama saja seperti hukum yang mengatur masyarakat kita–hanya saja, yang ini juga dapat menegakkan hukum itu secara langsung, di mana saja, sepanjang waktu.”

Jujur, saya masih tengah membeli buku keduanya. Saya akan beli buku kedua dalam bahasa inggris. Dan semoga buku kedua ini lebih mengesankan dari buku pertama.