Ke(E)ping Buku

[Ke(E)ping Buku] Novel Man’ Search For Meaning Oleh Viktor E. Frankl

Manusia mampu mengubah dunia ke arah yang lebih baik jika dimungkinkan dan untuk mengubah dirinya ke arah yang lebih baik jika dibutuhkan

Judul : Man’s Search For Meaning

Penulis : Viktor E. Frankl

Penerjemah : Haris Priyatna

Genre : Self Improvement, Psikologi

Penerbit : Noura Books

Jumlah Halaman : 233 Lembar

Cetakan Ke : Enam, November 2019.

Rating Goodreads : 4.36

Rating Pribadi : 3.8


Sinopsis Buku Man’s Search For Meaning

Viktor Frankl pernah berada di tempat kamp kematian Nazi yang berbeda, termasuk Auschwitz, antara tahun 1942-1945. Dia bertahan hidup, sementara orangtuanya, saudara laki-laki, dan istrinya yang tengah hamil akhirnya tewas dalam kamp.

Di dalam keganasan dan kekejian Kamp, Frankl yang juga seorang psikiater belajar menemukan makna hidup.

Ulasan Novel Man’s Search For Meaning

Awalnya membaca buku ini karena latar belakang dari seorang penulisnya. Bagi saya, buku ini bukan hanya buku motivasi, tetapi juga menjelaskan tentang teori psikologi manusia. Kutipan kalimat dari Profesor viktor  yang berdiksi indah juga dilandasi bagaimana dia bisa bertahan sehingga mampu memberika kutipan indah itu untuk pembacanya.

Dari bab awal saya dipertemukan dengan kehidupan Profesor Viktor bagaimana dia bisa msuk ke kamp konsetrasi di auschwitz. Tentu dengan kata-kata motivasi yang dapat memahami perasaan pembacanya. Apalagi saat dia menjelaskan mengenai pengalaman profesor di Kamp, benar-benar deh kengeriannya itu terasa ke saya.

Bagaimana Profesor Viktor menjelaskan kehidupannya itu serupa penulis tengah menuliskan alur cerita sebuah novel sehingga pembaca merasa ikut masuk ke dalam intu cerita. Karena begitu masuk ke dalam cerita, pembaca tahu bagaimana yang terjadi di kamp konsentrasi. Bagaimana keadaan psikolog tawanan dan penjaga tawanan di kamp tersebut.

Di dalam buku ini, saya menemukan juga bahwa Profesor Viktor memiliki teorinya sendiri mengenai psikolog manusia. Teori logoterapi berhasil membuat dia keluar dari tekanan batin di dalam kamp.

Di dalam teori logoterapinya, profesor Viktor menyatakan bahwa teori psikoanalisis dengan teorinya memiliki perbedaan. Logoterapi lebih berperan untuk mencari makna ketimbang keinginan untuk mencari kesenangan.

Penjelasan teori logoterapi ini mudah dipahami juga. Nggak ribet seperti kamu mempelajari teori teori pada umumnya. Terjemahannya juga nggak sampai ngebuat pembaca seperti saya harus berulang kali memahami maksud daru pesan di buku ini. Apalagi yang paling berkesan buat saya adalah saat Profesor Viktor menceritakan pengalamannya di kamp konsentrasi.

Bagaimana dia membantu beberapa tawanan yang terkena penyakit dan mental yang down harus menghadapi kenyataan yang mengerikan. Di buku ini juga banyak menyangkutkan teori psikoanalisis Freud. Sebenarnya ada juga yang nggak membuat kesan saya kurang puas, yaitu bagaimana cara dia membandingkan teori psikoanalisis freud yang justru membuat saya semakin tahu bahwa teori logoterapi ini hampir serupa tetapi hanya berbeda nama.

Ya nggak terlalu sama sih, tetapi kalau dipahami lagi Profesor Viktor seakan membuat teorinya itu selalu berdampingan dengan teori psikoanalisis Freud dengan makna yang hampir sama juga. Mungkin, bagusnya adalah dia memiliki pengalaman paling menyakitkan sehingga siapapun ilmuwan kemungkinan nggak akan sanggup hidup nyaman seperti Profesor Viktor.

Oh ya, untuk kata-kata motivasi ini banyak banget yang semestinya saya jadikan kutipan tetapi yang di bawah ini adalah kutipan yang saya temukan memiliki diksi begitu indah sehingga membuat saya merasa nyaman sekali ketika membaca.

“Biarkan saya menjadi kunci pintu hatimu, cinta sama kuatnya dengan kematian.”

“He who has a why to live for can bear with almost any how” (dia yang memiliki mengapa untuk hidup bisa menanggung hampir sembua bagaimana).

Pertanyaan-pertanyaan tentang makna hidup tidak dapat dijawab dengan pernyataan universal. “Hidup” bukan sesuatu yang samar, melainkan sesuatu yang sangat nyata dan konkret, begitu juga dengan tugas-tugas yang  juga sangat nyata dan konkret.

Bagaimanapun , manusialah makhluk yang menciptakan kamar gas di Auschwitz, tetapi manusia jugalah yang masuk ke dalam kamar gas tersebut dengan tubuh yang tegak, dengan doa doa pujian kepada Tuhan, doa Shema Yisrael terucap dari bibirnya.

Kebahagaiaan itu  bisa diperoleh debgan mewujudkan potensi makna hidup yang merupakan bagian dari dan tersembunyi dalam setiap situasi.

Prinsip yang lazim dikenal sebagai “pleasure principle” ini tidak lebih dari sekadar penghancur kesenangan.

“Sed omnia praeclara tam difficilia quant rara sunt (sesuatu yang hebat sangat sulit diwujudkan dan sangat sulit ditemukan.”

Jadi marilah kita waspada–waspada dalam dua pengertian
1. Sejak auschwitz, kita tahu apa yang mampu dilakukan oleh manusia.
2. Dan sejak Hiroshima, kita tahu apa yang dipertaruhkan

Jadi, bagi saya buku ini bisa dikatakan sebagai buku dengan dua makna, buku self improvement dan buku teori psikolog. Begitu membaca ini, nggak akan pernah lepas dari penederitaan dan memaknai sebuah penderitaan tersebut.