Ke(E)ping Buku

[Ke(E)ping Buku] Novel Pada Sebuah Kapal Oleh Nh. Dini

“…Bukan untuk mencari uang, tapi kau menari untuk dirimu sendiri, huat suamimu dan anakmu.” Aku tersenyum mendengarkannya. Aku waktu itu tidak berpikir akan kebenaran kata-katanya yang terakhir.”

Judul : Pada Sebuah Kapal

Penulis : Nh. Dini

Genre : Sastra Klasik, Roman Klasik, Sastra Indonesia

Penerbit : Gramedia

Jumlah Halaman : 350 Lembar

Cetakan Ke : Sebelas, Oktober 2019.

Rating Goodreads : 3.66

Rating Pribadi : 4.0


Sinopsis Novel Pada Sebuah Kapal

Setelah tunangannya (Saputro) tewas dalam kecelakaan pesawat terbang, akhirnya Sri menikah dengan Charles Vincent. Pasangan ini kemudian bermukim di Kobe, Jepang. Meskipun sudah memperoleh seorang anak dari diplomat Perancis itu, Sri sesungguhnya tidak merasa bahagia.

Tidak dinyana, dalam perjalanan liburan dari Saigon menuju Marseille, Sri menemukan kembali kemesraan dan kelembutan yang telah sekian lama didambakannya itu pada Michael Dubanton, komandan kapal yang sudah beristri dan mempunyai dua orang anak. Sri yang tidak mencintai suaminya sejak semula itu pun menjalin kasih dengan Michael yang kecewa dengan isterinya (Nicole)!

Nh. Dini mengungkapkan kisah Sri-Michel yang terjadi pada sebuah kapal dengan goresan amat halus dan memikat.

Ulasan Novel Pada Sebuah Kapal

Membaca buku ini dikarenakan saya penasaran dengan cover barunya. Hehehe. Dan juga, sewaktu itu belum ada niatan untuk ikut mengulas buku ini. Jadi, saya baca ulang.   Nggak pernah bosan saya membaca satu per kata kisah Sri dengan Michael. Kecuali ada satu sudut pandang yang membuat saya nyaris skip berlembar hanya terpalu lama dalam penuturan alurnya.

Sebelum itu, saya ingin menyeritakan bagaimana perjuangan tokoh Sri dalam menjalani hidupnya. Awalnya Sri hanyalah seorang perempuan biasa, tanpa hal yang menarik pun, bahkan kedua orang tuanya juga berpikiran seperti itu. Sampai saat ayahnya membawa dia ke salah satu tempat penari. Di sanalah, semangat hidupnya sebagai penari timbul. Dia menari jawa, meliuk bagai seorang wanita yang bebas.

Keinginan menari itu mendadak hilang, dan Sri merasa bosan dengan dunianya. Dia memilih untuk keluar dari Semarang, untuk datang ke Jakarta sejak ayahnya meninggal. Di sanalah dia berpartisipasi sebagai pramugari, tetapi dia gagal karena paru-parunya ada masalah. Dalam hidup Sri dia selalu bertemu dengan sosok pria yang baik. Dari seorang bernama Yus seorang pelukis sama seperti kakaknya, Carl, teman kakaknya, Saputro, Charles yang belum terlalu lama dia kenal, dan Michael seorang perwira yang berhasil membuat hatinya berbunga-bunga.

Bukan hanya itu, Sri berhasil memberikan karakter yang kuat dengan peran sebagai penari jawa. Saya suka banget dengan karakter berani Sri dalam menghadapi masalahnya. Apalagi setiap sindirannya terhadap masalah. Sayang banget, penggambaran penari itu nggak benar-benar dijelaskan secara rinci.

Kemudian saat sampai di sudut pandang Michael, saya juga merasa hambar. Tidak terasa menyenangkan lagi cerita novel ini. Padahal, saya suka bagaimana Sri menggambarkan sosok Michael dengan sudut pandangnya. Namun ketika penulis menggambarkan kisah Michael sendiri di belakang cerita, justru terasa hambar dan nggak terlalu seru seperti awalnya.

Bisa dikatakan, novel ini juga memiliki alur yang lambat. Kalau pertama kali membaca, kita nggak tahu kalau novel ini memiliki sudut pandang kedua yang tidak dicampur tetapi dibedakan menjadi bab lain.

Tokohnya memang terlalu banyak, tetapi nggak ngebuat kebingungan untuk membedakan karakter. Karena penjelasan karakternya kuat banget. Alurnya lama sekali sampai pertemuan Sri dengan Michael bisa banget dibuat hanya 200 halaman kurang karena sisanya mengenai hal-hal sepele sampai pada titik dimana seseorang yang Sri cintai harus pergi meninggalkannya.

Namun, saya suka kutipan di novel ini. Di bawah ini adalah kutipan yang saya temukan dan memberi kesan menyenangkan kepada saya.


“Tangan penari,” katanya setengah berbisik.”Aku benar-benar senang bisa mengenalmu. Kalau kita mempunyai anak, aku ingin dia menjadi seorang beradab, halus seperti ibunya. Dariku, aku hanya memiliki kekasaran dan kekerasan tentara.”

Aku merasa seperti sebagian dari barang-barang rumah tangganya.

“Hal itu tidak perlu anda perhatikan. Anda menari sebagai seorang seniwati, tidak sebagai warga negara mana pun. Kesenian adalah milik kemanusiaan.”

“Undang-undang perkawinan mengharuskanku untuk tidur bersamanya, menemaninya pada waktu-waktu susah dan gembira. Sedangkan hukum alam mengharuskanku untuk memikirkan kebahagiaan anakku, untuk mengasuhnya dengan kecintaan yang pernah kuterima pada masa-masa tumbuhku, yang akan tetap melingkup dan membungkus seluruh hatiku.”

Aku merasa tenang. Dengan memandangi wajahku sendiri, aku menemukan kekeluargaan sekitar yang akrab, yang tidak kulupa, yang tidak akan melupakanku.

“Saya kira ketenangan itu hanya merupakan pakaian saja, Romo. Yang ada di dalamnya, yang merupakan sifat yang sesungguhnya tidak pernah bisa tahu.”

“Dia tidak mengerti bahwa selama ini perempuan yang tidur dengan dia tidak lain hanyalah satu dari alat-alat perabot rumah yang disapu, dibersihkan dan digunakan tanpa perhatian yang khusus.”

“Kita bisa jatuh cinta setiap hari,” sambung Tuan Langot yang tidak hentinya mengedarkan pandang ke arah penjaga bar dan kepadaku.”Tapi mencinta adalah lain lagi. Itu memerlukan perjuangan, kadang-kadang sedikit keberanian.”

Kenangan semacam itu adalah kekayaan. Dan kekayaan laki-laki yang tersembunyi dari segala mata adalah pengalaman dengan perempuan, kalau itu tidak dapat disebut cinta.

“Kita telah berjauhan selama itu tanpa menyadari bahwa sebetulnya kita berada di satu titik tujuan. Ini adalah salahku. Aku yang seharunya membuat langkah pertama. Tapi terlalu pemalu. Aku menggunakan delapan hari intuk mengajakmu benar-benar berbicara.”

Jadi, bagaimana? Apakah kamu akan membaca buku sastra klasik Indonesia milik NH. Dini ini? Karena bagi saya, alur lambatnya nggak sama sekali membuat pembaca kehabisan keseruan. Karena novel ini gampang banget dipahami.

Oh ya, novel ini bahkan sering mendapatkan apresiasi dari sastrawan Indonesia karena penggambarannya mengenai hakikat seorang perempuan sebenarnya loh.