Ke(E)ping Buku

[Ke(E)ping Buku] Novel Dari Dalam Kubur Oleh Soe Tjen Marching

“Tapi ada yang lebih berbahaya dari pedagang tulisan,” lanjutnya, “yaitu pelacur tulisan. Mereka inilah yang bisa nyiptakan Tuhan dan Setan.”

Judul : Dari Dalam Kubur
Penulis: Soe Tjen Marching
Genre : sejarah, politik, drama, dan keluarga
Penerbit : Marjinkiri
Jumlah Halaman : 509 lembar
Ukuran Buku : 15×20.3 cm
Rating Pribadi : 4.7/5.0
Rating Goodreads: 4.63/5.0

Sinopsis Novel Dari Dalam Kubur

Sejak kecil, Karla merasa diperlakukan tidak adil oleh ibunya yang ia anggap misterius. Namun tak ada seorang pun dalam keluarga yang membelanya. Inilah yang membuat Karla tak mempunyai pilihan selain menjauh dari keluarganya. Berpuluh tahun sesudahnya, barulah satu demi satu rahasia itu mulai terkuak baginyaโ€”bukan hanya rahasia yang menggelayuti keluarganya, tetapi juga banyak manusia lainnya.

Ulasan Novel Dari Dalam Kubur

Awal dari membaca buku ini adalah kisah nyata yang akan saya jumpai di dalam bukunya. Ditambah dengan beberapa komentar dari penulis Eka Kurniawan dan Mbak Okky Madasari di belakang bukunya. Tentu juga karena ini buku dengan latar sejarah yang mengulik tahun 65an.

Singkat cerita buku ini memiliki alur maju-mundur. Sehingga untuk berniat melewati satu bab saja, semuanya runyam. Anehnya, susunan alur ini nggak membuat pembaca bingung. Bayangkan saja bahwa di buku ini memiliki alur di tahun 2013-2014, kemudian kembali ke tahun 1960an, lalu pelan-pelan masuk ke masa modern yaitu tahun 2018an.

Alur maju-mundur di buku ini nggak membuat pembaca ikutan bingung karena di setiap babnya selalu diberikan keterangan mengenai tahun.

Membuka bab pertama, saya sudah disuguhi kebencian Karla terhadap ibunya. Apalagi Karla memiliki fisik yang berbeda dengan Ibunya dan kakaknya, Karton. Walaupun ayahnya memang sedikit memiliki kulit hitam, tetapi tidak sehitam Karla.

Buku ini menjelaskan kebencian Ibu Karla dari peristiwa ulang tahun Karla yang tidak jadi dirayakan, dan menghilangnya ibunya beberapa hari yang pulang-pulang dengan gaya pakaian terbuka dan aneh. Belum lagi kekejian Ibunya terhadap kematian Romo Justin. Ibunya yang selalu memberitahukan Karla dan Katon terhadap perbedaan Huana dan Tangleng. Cerita diskriminasi mengenai kaum cina memang terasa di buku ini.

Sudut pandang Karla juga menjelaskan karakter Ibunya yang berbeda dengan karakter yang lain. Bagaimana Ibunya tidak setuju dengan buku pelajaran sejarah yang dipelajari di sekolah Karla, menolak keinginan Karla untuk berpakaian kartini, dan selalu menceritakan bahwa film gerakan PKI yang sering Karla tonton itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Ibunya Karla ini memiliki watak keras kalau melihat dari sudut pandang Karla. Dia juga memiliki wawasan luas tentang pengetahuan umum, seperti peristiwa columbus dan peristiwa lainnya.

Sudut yang digunakan adalah sudut pandang pertama. Apalagi ketika sudut pandang yang saya baca di awal itu adalah sudut pandang Karla,  saya merasa ikutan membenci Ibu Karla. Namun, segala hal pasti memiliki sebab-akibat atau sesuatu yang dilatarbelakangi. Dan, di buku inilah saya menemukan alasan tersebut dari sudut pandang ibunya.

Sudut pandang ibunya ini berasal dari dokumen otobiografi yang dimiliki oleh Wulan, seseorang yang sangat penasaran dengan sejarah Ibu Karla. Dimulailah kisah nyata ibunya Karla. Nama yang diketahui Karla adalah Lydia, tetapi di dokumen ini, Karla tahu bahwa ibunya memiliki nama lain yaitu Ori Djing Fei. Perempuan cina yang tinggal di Indonesia dengan hiruk pikuk kelamnya sejarah Indonesia tahun 1965an.

Kisah ini dimulai dengan karakter baru bernama Lan Ing, Widya, Fan dan Bu Yatmi. Bu Yatmi, Fan, dan Widya adalah anggota Gerwani. Lan ing dan Djing Fei adalah saudara, lebih tepatnya Lan Ing adalah adik suaminya. Dari keempat wanita itulah, konflik menyakitkan itu terjadi padanya. Dengan tambahan, dia harus lahir di zaman dimana semua terasa kelam. Di mana diskriminasi itu jelas terasa walaupun sampai saat ini.

Dari awal pertemuan merekalah, kita tahu alasan dan mengapa  nama Djing Fei berubah menjadi Lydia.

Djing fei adalah pahlawan untuk Lan Ing. Pahlawan yang mengorbankan dirinya untuk ditangkap sebagai Tapol PKI. Lebih gilanya lagi, penggambaran di jeruji tapol perempuan membuat saya hampir meledak ngilu di hati. Bagaimana mereka terpaksa memakan belatung yang muncul di luka mereka, bagaimana para tapol lelaki membuang mayat ke sungai-sungai. Membaca buku ini merupakan uji nyali saya terhadap kekejaman pemerintah pada zaman dulu.

Apalagi membaca karakter Lydia atau Djing Fei sebenarnya terhadap anaknya, Karla..  Walaupun Karla sendiri berbeda sifat dengan dia dan Karton, dia masih menyayanginya. Mungkin memang awalnya Djing Fei ingin menggugurkan bayi mnya karena dia tahu bahwa bayi ini lahir karena dia diperkosa di dalam jeruji tersebut, tetapi penggambaran dia menyayangi Karla itulah yang membuat saya menangis pilu ketika membacanya.

Di buku ini juga menceritakan bagaimana bisa dokumen tersebut akhirnya mendapatkan respons dari beberapa negara. Dibahas juga mengenai beberapa peristiwa kekerasan di PKI yang berhasil  digugat. Jangan pernah memberi skip halaman sedikitpun di buku ini. Karena buku ini memiliki waktu yang acak.

Yang membuat saya tidak bisa memberikan rating 5.0 karena di awal saya hampir bosan dengan penceritaan Karla membenci ibunya. Sampai berada di sudut pandang Ibunyalah yang membuat saya lanjut untuk membacanya. Jadi, bersabarlah kalian kalau merasa sedikit bosan di awal bab atau di sudut pandang Karla, karena itu baru saja awalnya. Saat mendekati konflik, kalian nggak akan pernah bisa lepas dari buku ini.

Di bawah ini adalah kutipan yang saya temukan. Dari kutipan ini saya berharap kalian semakin teguh pendiriannya untuk membeli atau membaca buku Dari Dalam Kubur.

“Menurut Romo, memaksa seseorang mengaku dosa itu lebih berdosa daripada tidak berdosa.”

“Semua kegemilangan masa lalu itu mesti hancur bukan karena kesalahan mereka, tapi karena satu alasan: kerusuhan politik.”

Sungguh, berbagai kekacauan di luar sana sudah memberiku rasa kebahagiaan tersendiri: ada sesuatu yang lapang dan memuaskan di sini. Segala kemalangan yang diderit orang lain seolah menjadi dekorasi, yang membuatku lebih mensyukuri kemujuranku: seperti aksen kontras yang membuat kelegaan itu makin tegas, makin intens, makin nyata.

Tentu saja ada istilah yang lebih indah untuk anak seperti Maya: “berkebutuhan khusus”. Tetapi masa depan mereka tetap suram di negeri yang tak memberi fasilitas khusus apa pun kepadanya.

Aku sadar walaupun terlambat: Optimisme yang kebablasan itu adalah istilah sopan dari “delusi”

“Rasisme tidak diciptakan oleh warna kulit atau bangsa apa pun. Rasisme dan diskriminasi diciptakan dalam pikiran. Manusia bisa saja mendiskriminasi dengan istilah-istilah dan cerita-cerita baru.”

“Apa pun yang dianggap tinggi, benar, dan suci harus dipertanyakan.”

“Negeri ini sebenarnya adalah sebuah panggung sirkus raksasa. Yang badut-badutnya ingin disembah dan dipuja.

“Bukan Arab atau Jepang atau Belanda yang jahat. Bukan penjajah yang jahat, tapi penjajahanlah yang jahat.”

Nah karena kisah ini kisah nyata, semua tokoh yang pernah digugat di dalam buku ini dengan kaitan penangkapan PKI adalah benar adanya. Kamu akan menemukan beberapa dosen dari UGM yang ternyata menjadi tersangka. Lebihnya, silakan kalian baca sendiri.