166 views
anemia defisiensi besi
Kee(LI)ping Artikel,  Kee(LI)ping Kompetisi

Anemia Defisiensi Besi Hidup Dengan Mengancam Sistem Kekebalan Tubuh

Anemia Defisiensi Besi itu berbahaya atau tidak sih?

Untuk memiliki hidup yang sehat adalah impian semua orang, termasuk saya. Beberapa orang akan melakukan berbagai cara agar impian tersebut bisa dicapai. Namun untuk mencapai hal tersebut, kadang-kadang saya sebagai orang dewasa sudah terlanjur basah kuyup melahap semua jenis makanan tanpa mengetahui kandungan makanan tersebut. Hasilnya, sebagai orang dewasa, saya sering mengeluh karena rasa nyeri di kepala dan belakang leher.

Sampai saya memilih jalan mendiagnosa diri sendiri melalui laman pencarian di Google. Walaupun self diagnosa itu baik, tetapi alangkah baiknya kita segera memeriksa ke ahlinya. Bersamaan dengan mendiagnosa diri sendiri di laman google, saya melihat video dari akun youtube nutri untuk bangsa tengah memberikan webinar gratis tentang kesehatan lintas generasi yang dijelaskan oleh dua narasumber terbaik, Dr.dr. Diana Sunardi, MGizi, SpGK dan Arif Mujahidin.

Kenapa saya memilih untuk melihat webinar tentang anemia? 

Jumlah penderita anemia di Indonesia terdiri dari 26,4 persen anak-anak, 12,4 persen laki-laki usia 13-18 tahun, 16,6 persen laki-laki di atas 15 tahun, 22,7 persen perempuan usia 13-18 tahun, 22,7 persen wanita usia 15-49 tahun, dan 37,1 persen ibu hamil.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013

Oleh karena itu, saya mengikuti webinar dari Danone ini agar saya lebih peka terhadap kesehatan saya. Maka di bawah ini ada runtutan penjelasan yang saya tangkap dari webinar di akun youtube nutrisi untuk bangsa.

Jadi apa itu Anemia???

anemia defisiensi besi
sumber informasi dari inforgrafik ini berasal dari webinar peran nutrisi dalam tantangan kesehatan lintas generasi

Anemia adalah gejala kekuarangan darah. Itulah garis besar yang dimengerti oleh masyarakat pada umumnya, termasuk saya. Memahami anemia tidak hanya sampai di pengertian saja, lebih baiknya kita memahami bagaimana gejalanya, faktor yang melandasi dan cara mengatasinya. 

Anemia adalah suatu kondisi rendahnya kadar HB dibandingkan dengan kadar normal, yang menunjukkan kurangnya sel darah merah yang bersirkulasi.

Sumber Webinar Oleh Dr.dr. Diana Sunardi, MGizi, SpGK

Gejala anemia bukan hanya bersifat sementara, justru memiliki jangka waktu yang panjang. Tidak menutup kemungkinan, anemia juga mampu mewariskan ke anak-anak kita nanti. Sedangkan bila kita membiarkan penanganan anemia, dampaknya bisa merembet ke komplikasi juga loh.

Baca Juga : KONSEP ONE SIZE FIT DALAM GENERASI MILENIAL

Kenali Jenis Gejala Anemia 

Menurut data WHO yang saya dapatkan dari sumber webinar di youtube Nutrisi Untuk Bangsa, siapapun bisa memiliki kesempatan terkena gejala anemia ini. Terbagi menjadi tiga klasifikasi yang diurut berdasarkan kelompok umur. Berikut ini penjelasan klasifikasi gejala anemia berdasarkan kelompok umur :

Gejala Anemia Rendah 

Untuk dapat dikatakan kita mengalami gejala anemia yang masih di tahap rendah, kita harus tahu kisaran berapa kadar gula darah normal di dalam tubuh kita. Kadar gula darah yang tengah terkena anemia ringan biasanya sekitar kurang 10-11,9 mg/dL.

Gejala Anemia Sedang 

Berada di tahap mengalami gejala anemia sedang, bukan berarti kita masih aman. Justru di tahap ini, kemungkinan besar kita akan masuk ke dalam tahap gejala anemia yang sangat berat. Pada tahap ini, penderita mulai kehilangan gula darah normal bisa sekitar lebih dari 3 mg/dL dari gula darah normal di dalam tubuh kita. Jadi kisarannya sudah sangat jauh. Bisa jadi juga, penderita di tahap ini sudah mengalami kompikasi ringan di dalam tubuhnya.

Gejala Anemia berat

Di tahap ini, penderita anemia diharuskan mendapatkan perawatan insentif. Dikarenakan gejala yang akan penderita dapatkan bisa berupa komplikasi yang lebih berat. Ini dikarenakan, kadar gula darah normal kita hanya di bawah 8,0 mg/dL.

Dari ketiga klasifikasi gejala anemia berdasarkan umur, kita tahu bahwa anemia ini menyerang kepada siapapun dan kapanpun. Gejala yang ditimbulkan pun dapat sangat bervariasi. Namun yang paling penting, anemia mampu menyerang sistem kekebalan tubuh. Hal ini yang menjadi tolak ukur bahwa anemia merupakan penyakit yang serius dan harus ditangani dengan cepat. 

Kemudian perhatikan orang di sekitar kita atau mungkin pada anda sendiri. Apakah kemungkinan gejala di bawah ini ada di dalam diri kita atau orang lain? 

  • Kelopak mata pucat
  • Kulit pucat
  • Napas sesak atau napas cepat
  • Kelemahan otot
  • Sakit kepala
  • Tekanan darah rendah
  • Nadi cepat
  • Pembesaran limpa

Skema Penyebab Dari Gejala Anemia Defisiensi Besi

Zat besi digunakan untuk memproduksi sel darah merah, yang membantu menyimpan dan membawa oksigen dalam darah. Apabila di dalam tubuh kita hanya mengosumsi sel darah merah yang sedikit, maka oksigen dalam tubuh kita tidak diproses ke dalam organ dan jaringan di dalam tubuh kita. 

Ada banyak hal yang dapat menyebabkan tubuh kekurangan zat besi. Hal ini terjadi karena setiap usia dan jenis kelamin memiliki perbedaan masing-masing dalam asupan zat besi. Di bawah ini adalah data dari kebutuhan zat besi harian tubuh menurut AKG 2019. 

Anemia bisa terjadi pada remaja wanita yang tengah megalami periode bulanannya, kehamilan, dan beberapa penyakit yang pernah diderita oleh pasien, seperti halnya; kanker gastrointestinal. Akan tetapi, menurut pemaparan Ibu Diana bahwa penyebab anemia kurang zat besi dikarenakan tiga hal:

  • Asupan makanan
  • Sakit (infeksi ataupun penyakit kronis)
  • Penyebab lainnya.

Dari ketiga hal yang menjadi pengaruh penurunan zat besi, Ibu Diana menjelaskan bahwa asupan makanan merupakan penyebab pokok defisiensi besi pada penderita anemia. Walaupun sebenarnya terdapat faktor lain mengenai defisiensi besi ini, seperti halnya ; Faktor asupan makanan, faktor demografi, dan faktor sosial. Ketiga faktor ini memiliki resiko yang besar terhadap gejala anemia.

Anemia defisiensi zat besi dari faktor asupan terjadi dikarenakan besi heme yang kurang, vitamin C yang jarang dikosumsi, terlalu sering mengosumsi sumber fitat dan sumber tanin (kopi dan teh), dan terakhir terlalu menjalankan diet yang takaran gizinya tidak seimbang. Hal itulah yang menjadi penyebab kita bisa mengalami gejala anemia dari yang ringan hingga ke berat. Tidak menutup kemungkinan, semakin lama faktor penyebab tersebut dilakukan oleh kita, semakin lama juga sistem kekebalan tubuh kita ikut menurun. 

Haruskah Lebih Waspada terhadap Anemia Defisiensi Besi?

anemia defisiensi besi
sumber informasi dari inforgrafik ini berasal dari webinar peran nutrisi dalam tantangan kesehatan lintas generasi

Kekhawatiran utama dari anemia adalah bahwa sistem kekebalan yang dilemahkan oleh infeksi yang berkelanjutan. Walaupun faktanya gejala berat dari penderita anemia memang sebagian besar mematikan. Apalagi gejala anemia ini lebih menyerang ke sistem pertahanan alami tubuh manusia. 

Pada tahap awal, anemia defisiensi besi ini memang tidak terlihat ketika gejalanya ringan. Namun seiring dengan semakin berkurangnya zat besi dalam darah, dan bertambah parahnya anemia yang diidap, maka gejalanya lebih jelas terlihat. Jika dibiarkan tanpa pengobatan, risiko pengidap anemia terserang penyakit dan infeksi pun semakin besar. 

Anemia defisiensi zat besi yang parah dapat meningkatkan resiko terkena komplikasi terhadap tumbuh kembang anak juga. Iya, anak bisa mengalami stunting. Stunting berawal dari status gizi pada remaja putri dan anemia kurang zat besi akan melahirkan bayi-bayi kurang berat badan. Dapat diperhatikan bahwa pertumbuhan seorang anak dipengaruhi oleh proteinnya, karbohidrat, kalsium, tetapi yang paling penting zat besi. Zat besi bukan hanya untuk sel-sel darah merah atau anemia tetapi untuk pertumbuhan anak.  

Begitu melihat data dari pemaparan Ibu Diana Sunardi, stunting di Indonesia masih mencapai 37,2%. Kemudian juga dijelaskan ibu hamil juga memilik risiko lebih tinggi daripada remaja dan usia produktif. Bila remaja dan usia produktif hanya menghasilkan kurang lebih 15% penderita anemia, sedangkan untuk ibu hamil presentasinya hampir sama dengan resiko anak terkena stunting, yaitu 37,1%

Gejala anemia ini patut diwaspadai. Bahkan sejak webinar awal Ibu Diana Sunardi menyatakan gejala anemia ini harus serius ditangani. Melalui judul webinar peran nutrisi dalam tantangan kesehatan lintas generasi yang diselenggarakan oleh Danone dapat disimpulkan bahwa gejala anemia ini dapat dimiliki oleh siapapun dan kapanpun.

Makanan Heme dan Non-Heme Iron Adalah Penunjang Imun Untuk Anemia

Zat besi adalah komponen utama hemoglobin atau protein sel darah merah yang membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh bagian tubuh. Dikarenakan zat besi yang kurang cukup di dalam tubuh, resiko yang didapat adalah kelelahan. Sejak awal saya mendengarkan webinar dari penjelasan Dr. Diana Sunardi, saya mempercayai zat besi penting untuk perkembangan dan pertumbuhan otak yang sehat dan untuk produksi normal serta fungsi berbagai sel dan hormon. 

Nah, mengetahui bahwa faktor utama dari terjadinya anemia defisiensi besi adalah  sumber makanan, maka yang wajib dijaga adalah pola makan kita. Namun, tidak semua makanan itu mengandung zat besi. Ada beberapa makanan yang hanya menyimpan asupan serat yang sedikit. Oleh karena itu, Dr Diana Sunardi membertahukan bahwa zat besi dari makanan datang dalam dua bentuk: heme dan non-heme.

Makanan heme ini lebih banyak ditemukan pada daging hewan. Sedangkan zat besi non-heme ditemukan dalam makanan nabati seperti biji-bijian. Zat besi heme lebih baik diserap oleh tubuh daripada zat besi non heme. 

Baca Juga : APLIKASI LETโ€™S READ SEBAGAI BENGKEL PIKIRAN UNTUK BERPETUALANG

Danone Bersinergi Untuk Anemia Defisiensi Besi

Kebutuhan zat besi pada lintas usia pada perempuan baik remaja hingga ibu hamil tidak banyak, tetapi semua itu harus memiliki nutrisi yang tercukupi. Ketika kita sudah memiliki gejala anemia defisiensi besi, yang diperlukan adalah perawatan terbaik agar gejala ini tidak berubah ke gejala yang lebih berat. Untuk mendapatkan perawatan terbaik, kita juga harus memulai dari mempertahankan imun kita terlebih dahulu. Oleh karena itu, ketika Danone mengembangkan produknya di Indonesia, saya percaya bahwa upaya untuk memutuskan rantai anemia defisiensi besi bisa terlaksana dengan baik. 

Di Danone, manusia dan planet ini saling berhubungan. Danone ingin memelihara dan melindungi keduanya. SebagaI perusahaan makanan yang sudah berkembang ke seluruh bagian Indonesia, danone sudah menjadi yang terdepan dalam revolusi makanan; sebagai gerakan yang bertujuan untuk memelihara penerapan kebiasaan makan dan minum yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Setiap kali makan dan minum, kita memilih dunia seperti apa yang akan kita tempati.

Danone

Kemudian, Danone pun membangun strategi jitu agar tetap selalu menjadi pilihan terbaik untuk anemia defisiensi besi dengan menerapkan 4 pilar berikut ini :

  1. Melawan Perubahan Iklim

Menjadi perusahaan makanan, Danone telah mengandalkan siklus pangan global agar lebih tangguh. Danone juga memastikan tantangan sistemik perubahan iklim. Sebagaimana dinyatakan dalam kebijakan iklim di tahun 2015, Danone telah berkomitmen untuk menjadi perusahaan netral karbon pada tahun 2050. Danone tidak hanya mencapai tujuan utama perusahaan, tetapi juga alam lebih banyak menyerap karbon, mempromosikan pertanian regenaratif, dan mengatasi deforestasi dari rantai pasokan yang dihasilkan oleh perusahaan. 

  1. Melestarikan Pengelolaan Sumber Daya Air

Danone mengambil langkah besar untuk mengatasi tantangan ai global. Banyak hal yang dilakukan Danone termasuk kampanyenya melalui WeActorWater. Dari kampanye ini, Danone telah bertanggung jawab dalam pengemasan, netralitas iklim, pelestarian daerah aliran sungai dan akses ke air minum yang amen. 

  1. Memulihkan Ekonomi Sirkular

Kampanya Danonen nggak hanya untuk dua pilar itu saja, mereka juga membuat kemasan yang 100% sirkular. Saya akan menjelaskan sedikit apa itu sirkular. Ekonomi sirkular yang dilakukan oleh Danonen adalah sistem ekonomi yang bertujuan untuk menghilangkan limbah dan penggunaan sumber daya yang terus-menerus. Nah, sebagai perusahaan yang berkomitmen kesehatan planet dan manusia, Danone fokus melakukan penghilangan kemasan yang tidak dibutuhkan, berinovasi bahwa kemasan tersebut bisa digunakan kembali, didaur ulang, atau dibuat kompos dengan aman; dan tentu memastikan materi kemasan yang dihasilkan tetap ekonomis dan tidak pernah menjadi limbah     

  1. Memberdayakan Agrikultural 

Di Danone, pertanian adalah inti apa yang perusahaan ini lakukan. Danone bangga dengan terhubungnya 58.000 petani di seluruh dunia. Danone pun berkomitmen dengan mengembangkan model pertanian baru yang dapat meregenerasi planet sembari menghasilkan pangan terbaik kepada 9 miliar orang pada tahun 2050 Bukan hanya itu saja. Pada tahun 2017 Danone mengumumkan bahwa mereka lebih fokus terhadap pertanian regeneratif yang bertumpu pada tiga pilar: melindungi tanah, memberdayakan generasi baru petani, dan mempromosikan kesejahteraan hewan. 

Dari 4 pilar tersebut, Danone telah terbukti memberikan sumbangsihnya dengan ikut memerangi anemia. Produk yang Danone hasilkan terbukti sebagai inovasi keseimbangan nutrisi seluruh bayi, anak-anak, ibu hamil, wanita atau pria yang tengah berperang melawan anemia defisiensi besi ini. Bukan hanya dengan produk yang terjamin bermanfaat untuk seluruh manusia di dunia, Danone megupayakan dengan beberapa kampanye yang mampu mengatasi permasalahan defisiensi besi ini di Indonesia. 

Ada kampanye isi piringku, warung anak sehat, aksi cegah stunting, duta 1000 pelangi, GESID, da taman pintar. Dari beberapa kampanye yang saya sebutkan telah membuktikan bahwa sumbangsih Danone sangat besar, akan tetapi semua itu tidak akan berjalan bila tidak ada sumbangsih keinginan dari diri kita sendiri. 

Maka, mulailah menggeluti pola hidup sehat dengan menyeimbangkan keseimbangan nutrisi di dalam tubuh. Jangan sampai satu gejala anemia pun berhenti di tubuh kita.

Biasakan juga untuk berolahraga, banyak-banyak minum air putih, vitamin C, mengosumsi makanan Heme dan Non Heme, dan terakhir untuk jangan terlalu dini mendiagnosa diri sendiri.

anemia defisiensi besi
sumber informasi dari inforgrafik ini berasal dari webinar peran nutrisi dalam tantangan kesehatan lintas generasi

Kamu juga bisa menyaksikan video webinar tersebut di bawah ini :

Di bawah ini, kalian juga bisa mendengarkan podcast dari nutrisi untuk bangsa dengan beragam topik kesehatan yang sangat bermanfaat.


Referensi :

https://www.youtube.com/watch?v=fuYipQ_bdn8&t=565s

https://www.danone.com/impact/un-sustainable-developement-goals/sdg13-climate-action.html

https://www.danone.com/brands/waters.html

https://www.danone.com/impact/planet/packaging-positive-circular-economy.htm

https://www.danone.com/impact/planet/regenerative-agriculture.html

Gambar dan desain:

โ€“ Media Gambar: Freepik dan Canva

โ€“ Desain: Ares Reva