128 views
Ke(E)ping Buku

Novel Jatisaba Dari Penulis Ramayda Akmal Yang Tersimpan Perdagangan Manusia dan Tradis Ebeg

Novel Jatisaba ini membuat saya berandai-andai, mungkin saya lebih baik nggak terlalu berharap dengan kisah romansa yang dibalut dengan konflik perdagangan manusia.

Dunia ini memang sebundar kemungkinan. Semuanya bisa terjadi. Seperti lingkaran, kemungkinannya tak terhingga

Ramayda Akmal – Jatisaba

Judul : Jatisaba

Penulis: Ramayda Akmal

Genre : Drama, Fiksi perempuan, Romansa.

Penerbit : Grasindo

Jumlah Halaman : 250

Rating Goodreads : 3.98 / 5.0

Rating Pribadi : 3.30/ 5.0

Sinopsis Novel Jatisaba

Mae kembali ke Jatisaba dengan  membawa mimpi-mimpi. Ia menyebar angan tentang pekerjaan bagus, gaji besar, dan kehidupan layak di luar negeri. Mae menebar utopia, berharao orang-orang terjebak masuk dalam praktik perdagangan manusia.

Mae tidak punya pilihan. Mayor tua, bosnya, menawan kebebasannya. Namun pertemuannya dengan Gao–cinta pertamanya–sedikit banyak memengaruhi diri Mae. Bersama Gao ia bergumul dalam romantika masa lalu dan kelamnya masa depan.
Namun hidup tidak memberikan waktu. mae harus segera mengambil keputusan, menuruti perintah Mayor tua, atau menghilang bersama laki-laki yang begitu dicintainya.

Baca juga : Anemia Defisiensi Besi Hidup Dengan Mengancam Kekebalan Tubuh Manusia

Ulasan Novel Jatisaba

Novel Jatisaba
Diambil oleh penulis sendiri

Pemikiran yang tertera paling awal di halaman ini memiliki alasan kuat bagaimana kekecewaan saya dengan novel ini. Jujur, saya memang penyuka novel genre sejarah atau tema yang lebih diarahkan ke pedesaan. Apalagi saya melihat dua penulis favorit saya mengemukakan pendapat buku ini layak dibaca. Dan tentu, saya memilih buku ini juga karena terdapat embel-embel pemenang unggulan sayembara novel DKI tahun 2010. Akan tetapi, buku ini terlalu kaku untuk saya. Dari gaya penceritaan sampai konflik ceritanya.

Singkat cerita, sosok Mae ini baru saja pulang dari luar negeri ke desa Jatisaba hanya untuk mencari pengganti dirinya sebagai dere-dere atau calo TKI. Nah, bertepatan dengan itu, di desa Jatisaba lagi diselenggarakannya pemilihan kepala desa. Bertepatan itu juga, Mae bertemu dengan cinta pertamanya, si Gao.

Kisah Mae dan Gao inilah yang menjadikan saya mau membaca buku ini, tentu dengan tema perdagangan manusia. Namun, kisah cinta Mae dan Gao tidak membuat saya jatuh cinta ketika membaca isi keseluruhan buku ini.

Bahasanya kaku sekali. Bukan kaku yang berkaitan dengan bahasa baku, tetapi sepertinya penulis kurang menggunakan pola kalimat sederhana seperti subjek, predikat, dan objek. Terlalu menggunakan pola kalimat pasif tetapi tidak menimbulkan kesan menarik bagi saya.

Pendeskripsian latar desanya memang lumayan jelas, tetapi masih tidak masuk ke hati. kejelasan dari deskripsi desa Jatisaba itu melalui beberapa kosakata jawa yang kurang kumengerti dan adat istiadat yang masih mempercayai hal mistis seperti ilmu pintar yang bisa menghilang seperti ninja. Kemudian, penggambaran ebeg, atau biasanya saya mengenal kuda lumping.

Dari desa Jatisaba, kita bukan hanya dilihatkan karakter penduduk di sana, tetapi kita juga diperkenalkan dengan acara pemilihan kepala desa yang justru lebih menarik dari kisah romansa Mae dan Gao. Saya mengenal bagaimana proses sulit dari seorang perangkat desa untuk menjadi lurah. Mereka bukan hanya mengeluarkan banyak uang, justru untuk menarik peminat mereka juga memiliki botoh-botoh atau tim sukses yang nggak hanya menghimpun fotokopi KTP, tetapi mereka botoh-botoh tersebut memiliki ilmu pintar seperti ninja atau orang yang sangat pintar bertarung ilmu bela diri.

Dari pemilihan kepala desa ini juga Mae mendapatkan bantu dari salah satu calon yang bernama Jompro. Dia memberikan tawaran dengan menggunakan nama Jompro agar Mae bisa mengambil warga desa Jatisaba untuk menggantikannya sebagai TKI. Ya tentu saja, Gao itu juga sebagai botoh yang bukan dari pihak Jompro. Jadi pada intinya Gao adalah tim sukses lawannya si Mae.

Kisah romansa antara Mae dan Gao seakan dipaksakan. Walaupun sebenarnya Gao sudah memiliki istri dan tiga anak. Karakter Mae memang kuat sekali di novel ini. Seakan-akan dari awal dia memang sudah dirancang untuk menjadi antagonis. Sedangkan Gao, justru tidak terlalu membuat saya terkesima. Bagi saya, justru Sitas, salah satu saudara Mae yang membuat saya memuja-mujinya.

Dibalik itu juga, Sitas ternyata menjadi tokoh protagonis yang menyelamatkan kisah ini menjadi menarik. Sejak awal, saya memang sudah menyangka si Sitas ini nggak hanya memiliki peran pendamping si Mae. Dia memiliki peran yang tidak disaangka-sangka saya. Padahal di awal, si Sitas ini polos, tipikal orang desa yang tidak tahu apa-apa. Namun aku suka bagaimana karakter Sitas yang tegas. Ya semua itu terjadi karena ketegasan itu dimulai dari masa lalunya yang kelam.

Di saat Mae telah mendapatkan banyak calon TKI, dia juga bisa bebas dari tugasnya menjadi seorang dere, sesuatu terjadi. Nah inilah plot twist yang menurutku kurang nyambung sama sekali. Iya, plot twist ini berkaitan dengan Sitas yang mendadak punya rencana hebat, padahal sejak awal karakter Sitas ini nggak tahu apa-apa atau bisa dikatakan nggak peduli apa pun yang Mae akan lakukan. Namun mendadak Sitas jadi tokoh protagonis yang membantu si Mae.

“Kau pikir untuk apa? Jelas untuk hidup, Mae. Aku butuh uang. Mereka butuh orang sepertiku. Kalau mereka menggunakan orang-orang pintar, orang-orang besar, itu terlalu mencolok. Maka, mereka menggunakan orang-orang bodoh seperti aku ini untuk melakukan hal-hal bodoh pula hehehe.”

Sitas

Entahlah, novel Jatisaba ini memang nggak bisa saya anggap sebagai novel rekomendasi. Namun, bila kalian memang suka dengan suasana pedesaan, mungkin bisa mencoba membaca buku ini. Kalau kamu lebih memilih kisah romansa, saya nggak tahu apakah novel ini cocok untuk kamu. Yang pasti, perdagangan manusia di novel ini lumayan membuka mata beberapa pembaca bahwa masih banyak orang di luaran sana teriming-iming dengan nama dibalik pekerja di luar negeri atau TKI. walaupun saya merasa eksekusi konflik perdagangan manusia di novel ini tidak membuat saya terkesima.ย