166 views
Kee(LI)ping Kompetisi

Thrift Shop, Gerakan Alternatif Para Millenial Sebagai Transformasi Solusi Limbah Pakaian

Bencana alam zaman ini adalah bencana yang tak lagi alami, karena ada campur tangan dari kita juga dalam melahirkan musibah tersebut.

David-Wallace Wells – “Bumi Yang Tak Dapat Dihuni”

Begitulah kira-kira bila keinginan di atas dipenuhi dan akhirnya menjadikan rumah saya memiliki lemari baju lebih dari 5. Maklum saya masih mempercayai baju-baju ini nantinya bisa digunakan untuk anak saya kelak. Bahkan, semakin mengundur waktu lebih banyak sesak pula lemari di dalam rumah saya. 

Tumpukan sampah di lemari saya terjadi dikarenakan keinginan konsumtif dengan alasan ingin ikut tren setiap tahunnya. Bagi perempuan seperi saya, berpakaian layak itu paling penting untuk menjaga penampilan. Bukan hanya perempuan, mayoritas lelaki saat ini juga lebih memilih merombak penampilan di pakaian. Atas nama penampilan, akhirnya saya menumpuk limbah pakaian saya sendiri di rumah. Mungkin saya bisa mengakalinya dengan menyumbang atau seperti orang tua saya katakan, suatu saat nanti pakaian ini bisa dipakai oleh anak saya nanti? Namun, bagaimana jika terdapat tren yang bisa mengakali limbah pakaian dan tentu memberi keuntungan dompet saya?

Potret Kualitas Pengelolaan Sampah Di Indonesia

Modal Indonesia menjadi negara maju hanya dibutuhkan dua hal: sumber daya manusia dan sumber daya alam. Menyadaur dari kompas.com dalam Wakil Menteri Perberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan dan RB) Eko Prasodjo menuturkan bahwa . “Indonesia berpotensi memiliki keempatnya. Sayangnya, sumber daya alam kita yang melimpah ruah justru dipakai negara lain. Nilai kita juga kuat karena punya sejarah panjang,โ€

Pemaparan Bapak Eko melalui laman kompas.com pun menjadikan kita tahu bahwa Indonesia memang memiliki sumber daya alam yang melimpah, akan tetapi bagaimana bila sumber daya alam itu bukan hanya diambil oleh negara lain tetapi juga dirusak karena limbah pakaian yang tanpa sadar kita lakukan? 

Melalui data dari laman http://sipsn.menlhk.go.id, memaparkan bahwa setiap tahunnya Indonesia bisa mengumpulkan 30 juta setiap tahun. Walaupun melalui laman tersebut dijelaskan bahwa limbah sampah Dan di antara 2 juta tersebut terdapat limbah pakaian yang jelas-jelas lebih bahaya dari sampah lainnya. Tentu kita menggunakan prinsip 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle), tetapi hal itu belum juga membuat sampah kita berkurang. 

Alasan Limbah Pakaian Susah Terurai

Kita memiliki masalah yang sampai sekarang masih terjadi yaitu tren fesyen yang terus-menerus berganti tanpa diketahui. Saat ini saya mengenal istilah itu sebagai fast fashion atau jenis pakaian murah yang diproduksi dengan cepat dan secara besar-besaran. Misalnya saja ketika musim dingin, industri fast fashion akan memproduksi pakaian yang menghangatkan badan dan beraneka ragam model pakaian.  

thrift shop

Volume yang dihasilkan setiap hari tidak sebanding dengan upaya menguraikannya. Dan limbah pakaian termasuk sampah yang susah terurai setelah sampah plastik. Menguraikan kain polyester bisa sekiar 10-40 tahun, sedangkan untuk kain dengan serat alami bisa terurai selama 2-20 tahun. Memang ada beberapa produsen pakaian yang lebih menyukai kain organik. Akan tetapi, penggunaan kain organik tidak dapat disimpan sembarangan karena bisa menjadi makanan rayap. Kalau sudah rusak, apa kita masih ingin menyimpannya? Ya solusi utama buang ke tempat sampah.

Faktanya lagi, World Wild Life (WWF) juga menekankan bahwa pembuatan satu kaos katun setidaknya menggunakan 2700 liter air. Kalau menyimpulkan fakta tersebut, industri pakaian secara masif berhubungan dengan jumlah polusi udara, pohon, dan tentu bila limbah pakaian terus menumpuk, ekosistem kita akan mengalami dampak paling buruk. 

Kemudian, terdapat data dari The Sustainable Fashion Forum, mereka memperkirakan di tahun 2030 konsumsi pakaian dunia meningkat hingga 63 persen, dari 62 juta menjadi 102 juta ton. Industri mode secara global juga menyumbangkan sekitar 10 persen dari total emisi karbon dunia, serta 20 persen dari limbah air dunia. 

Beragam fakta tersebut membuka lebar mata saya akan pengelolahan limbah pakaian. Kain yang menempel di tubuh kita adalah kombinasi rumit dari serat, perlengkapan dan aksesori. Mereka terbuat dari campuran benang alami yang bermasalah. Hal ini yang membuat pakaian sulit dipisahkan. Memilah tekstil menjadi serat dan jenis bahan yang berbeda dengan tangan membutuhkan tenaga kerja yang intensif, tidak lambat, dan terampil. Meningkatnya penggunaan campuran kain modern dalam pakaian juga membuat daur ulang tersebut sulit dilakukan secara cepat. Walaupun banyak peneliti telah mengembangkan teknik, tetapi sangat sedikit pakaian yang akan dikirim untuk didaur ulang benar-benar berubah menjadi pakaian baru. 

Saya juga telah menggunakan cara yang paling modern, yang sering dilakukan oleh orang tua saya, yaitu menyumbangkan pakaian ini ke saudara yang membutuhkan. Akan tetapi, sumbangan pakaian tersebut justru menjadi masalah baru. Dikarenakan, limbah pakaian yang kita simpan suatu saat juga akan menjadi masalah limbah pakaian kepada si penerima sumbangan. Apalagi jika pakaian yang kita sumbangkan tidak terlalu menarik minat mereka. Oleh karena itu, ada satu tren yang tengah diminati oleh kalangan millennial. Tren tersebut merupakan salah satu 1000 gagasan yang ingin saya sumbangkan opini terhadap  lingkungan.

Mengenal Thrift Shop Dari Para Millenial

Thrft Shop Limbah Pakaian

Saat ini, media sosial telah diramaikan dengan gagasan baru yaitu thrift shop. Mengenal thrift shop, kita juga mengenal sebuah kegiatan membeli barang bekas. Menelusuri perjalanan sejarah, thrift shop dikenal sejak di era 1980-an dan 1990-an. Pada revolusi industri zaman dulu, yang mana Amerika telah mengalami lonjakan pendatang imigrasi besar-besaran membuat pemerintahannya meperkenalkan produksi massal pakaian. 

Saat itu, mereka menawarkan harga pakaian baru semakin terjangkau dan banyak orang yang menganggap pakaian adalah barang sekali pakai. Sedangkan semakin lama lonjakan jumlah penduduk semakin besar, maka barang-barang yang menumpuk tersebut justru menjadi limbah. Sampai akhirnya, gagasan menjual barang bekas pun mulai ditawarkan untuk mengganti limbah pakaian yang sudah menumpuk ini. Tujuan mengenal thrift shop adalah untuk memperpanjang umur pakaian tersebut. Biasanya beberapa orang menyebutnya sebagai suistainable fashion. Nah, salah satunya dengan menjual pakaian bekas. 

Di Indonesia thrift shop sudah berkembang di berbagai daerah. Sebelumnya, kita mungkin mengenalnya sebagai barang bekas, tetapi setelah berkembang zaman, yang mana saat ini fesyen lebih mengarahkan ke vintage style, gagasan barang second berubah nama menjadi tren thrift shop. Dulu kita juga mengenal bahwa penjualan barang bekas merupakan alternatif yang diperjualkan untuk konsumen yang tidak mampu membeli nama merek, tapi saya sudah tidak menggap hal itu. Ada beribu macam toko thrift shop yang saya temukan di sepanjang jalan atau di setiap saya tengah berselancar di media sosial atau e-commerce. Tren ini dikosumsi lagi oleh para milenial. Dengan hanya menggunakan model yang mengenakan mix and match di thrift store mereka, banyak orang yang akan tertarik untuk memilih berbelanja di thrift store.

Gagasan tren thrift shop ini merupakan salah satu cara untuk pertumbuhan ekonomi yang berjalan dengan dukungan alam. Ekonomi sirkular sangat terbantu bila tren ini benar-benar diberi ruang yang lebih luas terhadap kalangan penggiat fesyen. Dan dalam beberapa tahun akhir, menghemat tidak hanya menjadi hobi tetapi bagi banyak orang menjadi gaya hidup. Kaum muda tidak hanya menginginkan penampilan toko barang bekas tetapi juga pengalaman berburu harta karun yang tidak pernah berakhir. 

Alasan Memberi Ruang Lebih Luas Tren Thrift Shop Untuk Indonesia

Sulit memang untuk mencintai pakaian kita dalam rentan waktu yang cukup panjang ketika kita dihadapkan dengan berbagai hal baru yang menarik minat mata kita. Budaya menghemat anggaran dengan menggunakan penawaran fast fashion masuk ke dunia kita justru mengalami dampak yang buruk terhadap lingkungan. Inilah alasan mengapa tren ini harus diberi ruang yang lebih luas untuk mendukung ekonomi sirkular dan lingkungan.

Baca Juga : Anemia Defisiensi Besi Hidup Dengan Mengancam Sistem Kekebalan Tubuh

Mengontrol Lapar Akan Hal Yang Baru

Limbah pakaian adalah konsekuensi yang tidak sengaja dari fast fashion, karena lebih banyak orang membeli banyak pakaian dan tidak menyimpannya dalam jangka waktu yang lama. Belum lagi, setiap tahunnya kita selalu tergoda dengan iming-iming gaya pakaian yang selalu diperbarui. Mereka seakan meyakinkan bahwa setiap tahunnya, kita diperbolehkan lapar terhadap gaya pakaian yang baru. Sampai akhirnya kita melupakan bahwa hal itu mampu memicu kerusakan lingkungan. 

Sebab itu, mengganti tren fast fashion ke thrift shop merupakan penunjang yang lebih pas untuk kita yang ingin bergaya tetapi tidak menumpuk limbah. Seperti yang saya tulis di atas, bahwa tren thrift shop ini mulai meluas ketika milenial acap kali menjadikan bisnis yang mudah dan murah ini ke dalam kehidupan mereka. Yang perlu dilakukan saat ini adalah menjadikan thrift shop masuk ke jajaran pembaruan gaya berpakaian dari waktu ke waktu.

Lebih Sedikit Sumber Daya Alam yang Digunakan

Alasan ini menjadi yang paling utama ketika mempertanyakan apakah tren thrift shop ini ramah lingkungan. Memahami bahwa 3000 liter air dapat menghasilkan satu kaos merupakan suatu hal yang sulit dipercayai sampai kita sendiri mendapatkan sumber yang terpercaya. Satu kaos saja mampu memboroskan berliter-liter air, sedangkan juga di Indonesia ada wilayah yang masih kekurangan air. Melalui tren thrift shop yang berkembang saat ini, kita bisa menjauhkan diri kita dari permintaan tekstil di seluruh dunia. Kita juga menjauhkan lingkungan kita dari limbah-limbah yang susah terurai dan secara positif kita telah berkontribusi pada penurunan permintaan tekstil di seluruh dunia dan limbah lainnya. . Tentu juga, gaya berpakaian tersebut bisa kita kompromi sesuai selera mode saat ini. 

Mengubah Perspektif Memiliki Barang Bekas 

Sebelumnya, saya selalu menyatakan bahwa barang bekas itu lebih layak disumbangkan. Kalaupun dijual, barang tersebut memiliki nilai yang kurang dari harga belinya. Sebaliknya, saat tren thrift shop mulai membumi, saya merasakan justru barang-barang di thrift store memiliki harga yang lebih tinggi dari harga belinya. Itu terjadi dikarenakan barang bekas yang memiliki harga jual tinggi telah sulit ditemukan atau terkesan sebagai barang langka.

Melalui thrift shop, saya memiliki perspektif baru bahwa belanja barang bekas bukan hanya menemukan barang langka, tetapi saya bisa mengatur diri saya sendiri untuk memilah kebutuhan dan keinginan saya. Jadi, barang bekas bukan hanya untuk mengganti cara mendukung lingkungan, tetapi memiliki beragam fungsi lainnya. 

Siapapun Bisa Mengikuti Tren Thrift Shopping

Ini adalah alasan yang bertujuan untuk mendukung ekonomi Indonesia. Ya. Masalah utama yang saya punya adalah masih menyimpan beberapa pakaian di lemari saya. Ingin menyumbangkan, tetapi masih ragu karena merasa barang ini terlalu memiliki nilai. Sampai akhirnya, saya menemukan utas bagus dari salah satu tweet dari Kak Risty Rianda mengenai usaha thrift shop yang meminimalisir modal, usaha, dan tentu limbah pakaian, tetapi masih memiliki keuntungan yang nggak kecil. 

Dari tweet tersebut, toko barang bekas dapat diikuti oleh orang-orang. Baik kamu yang masih remaja, orang tua, pensiunan, atau penggila fesyen. Jika kamu juga hanya ingin sebagai konsumen, tidak masalah. Justru kamu adalah orang yang menyambung ekonomi orang lain. Melalui beberapa alasan tersebut, dampak dari limbah tekstil dapat dikurangi walaupun dengan tren ini tidak dapat memenuhi semua masalah dalam mode industri dan tekstil. Namun, cara ini adalah cara yang mudah membuat langkah kecil untuk jejak karbon kita sendiri.                

Yang perlu Diketahui Saat Mengikuti Tren Thrift Shop

Thrift Shop Limbah Pakaian

Tren fesyen memang datang dan pergi, tetapi satu hal yang perlu kita ketahui bahwa apa pun trennya, kita bisa menemukannya di toko barang bekas atau thrift store. Saat ini, melalui milenial, berbelanja di thrift store tidak lagi menjadi masalah. Bahkan, milenial telah membuat tren thrift shop sebagai tren fesyen kekinian. Akan tetapi, jangan sampai tren thrift shop justru membawa pengaruh buruk kembali terhadap lingkungan kita. Gagasan membuka ruang lebih luas terhadap thrift shop bukan berarti kita harus kembali menambah baju yang sebenarnya tidak kita inginkan masuk ke dlam lemari yang masih penuh. 

Nah, kita hanya perlu mengetahui bagaimana yang harus dipersiapkan saat tren ini semakin meluas dari waktu ke waktu. 

Ketahui Jenis Gaya Kamu

Membeli barang bekas memang akan memberikan perspektif baru terhadap dunia. Bukan berarti pula, kita harus melupakan gaya kita sendiri. Dalam hal ini, tetap gunakan pola pikir kamu sendiri. Lebih berpikiran terbuka terhadap gaya kamu. Jika kamu lebih tertarik gaya fesyen dengan kemeja polos, kamu bisa tetap mencari kemeja itu di tumpukan baju-baju bekas tersebut.  

Membeli atau Menjual Barang Berlabel

Untuk membuat tren ini semakin meluas, pakaian yang akan diperjualbelikan memiliki nilai mutu berupa label yang terkenal. Biasanya barang berlabel lebih menarik minat pembeli. Apalagi barang berlabel tersebut tengah diskon besar-besaran. Aturan pertama yang harus diketahu dari tren thrift shop adalah tren ini bertujuan untuk menghemat apa pun. Baik itu menghemat agar limbah tekstil tidak lagi menumpuk atau menghemat dompet kita.

Belanja Barang Bekas Yang Efekti Bisa Dari Lemari Pakaianmu

Penggiat fesyen bisa dikatakan sebagai orang yang gila berbelanja. Dalam beberapa kasus, seseorang yang gemar berbelanja lebih suka menantang dirinya untuk memiliki pakaian baru kapan pun mereka inginkan. Orang yang gemar berbelanja tidak akan lupa bahwa membeli di thrift store merupakan membeli barang baru walaupun barang yang dia dapatkan bekas. Alih-alih ingin menghemat, justru menambah pemasukan ke dalam lemari pakaian kita. Thrift shop memang kadang diartikan sebagai menipu diri sendiri dengan berpikir kita dapat berbelanja untuk mengatasi masalah dengan menjual pakaian kita. Oleh karena itu, sebelum berada di thrift store, lebih baiknya lagi kita melihat terlebih dahulu lemari kita.

Ingat satu hal, kamu bisa berbelanja kapan pun dan apa pun hanya dengan melihat lemari pakaianmu sendiri.

ceritaaresreva.com

Walaupun, sensasi itu tidak akan terlalu berguna bagi orang yang gemar berbelanja. Setidaknya, mulailah dengan barang yang ada di dalam lemari kita, sehingga kita dapat menghindari membuang banyak pakaian. 

Berhemat Untuk Sesuatu Yang DIbutuhkan 

Thrift shop adalah seni menghemat bagi orang yang gemar berbelanja. Tren tersebut pun mencapai popularitas baru. Namun, ketika berbelanja tidak melihat kebutuhan, tren ini bukan lagi sebagai gagasan penghambat limbah tekstil, tetapi justru sebagai metode terbaik merusak lingkungan. Oleh karena itu, saat saya tengah berada di thrift store, saya selalu bertanya pada diri sendiri mengapa saya menginginkan barang.

Bahkan, saya menggunakan 5W=1H untuk membeli pakaian bekas. 

ceritaaresreva.com

Berbelanja pakaian mengingat kebutuhan yang diperlukan adalah salah bagian cara untuk melakukan 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Dengan tidak membeli barang baru, kita juga berkontribusi terhadap ekonomi Indonesia tanpa merusak lingkungan. Saat ini, milenial tela gencar menanamkan berbisnis thrift shop untuk kelangsungan ekonomi yang lebih baik dan tentu mengurang limbah tekstil. 

Saya sendiri juga lebih suka berbelanja di thrift store ketimbang membeli baju baru. Kita sudah mendapatkan wadah di era digitalisasi ini dengan menggunakan internet sebagai teman belanja kita di rumah. Sebenarnya, saya juga melihat ada satu tren yang menarik minat saya terhadap fesyen. Dari laman Madani berelanjutan, ada satu gagasan yang hampir serupa dengan tren thrift shop ini yaitu gagasan tukar baju. Jadi, kamu mau tunggu apa lagi? Kamu bisa menjadi konsumeb atau produsen sekaligus. Tren thrift shop sudah mendunia di sekitar kita.

Penggiat tren Thrift shop adalah mereka sudah menjadi orang yang turut mengikuti prinsip 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle).

ceritaaresreva.com

Referensi :

  1. http://sipsn.menlhk.go.id/sipsn/
  2. https://money.kompas.com/read/2014/10/07/143859026/Indonesia.Punya.4.Modal.untuk.Jadi.Negara.Maju
  3. https://twitter.com/RistyRianda/status/1369286275589578752

Gambar dan Desain :

Media Gambar : Freepik, Google, dan Canva

Desain : Ares Reva