64 views
Ronggeng Dukuh Paruk
Ke(E)ping Buku

Ronggeng Dukuh Paruk: Sebuah Novel Yang Menyimpan Beragam Petaka Ke Seluruh Tokoh

Judul : Ronggeng Dukuh Paruk

Penulis: Ahmad Tohari

Genre : Drama, Fiksi perempuan, Romansa.

Penerbit : Gramedia

Jumlah Halaman : 408 hal, 21 cm

Rating Goodreads : 4.19

Rating Pribadi : 4.00

Ronggeng Dukuh Paruk ini menjadi incaran saya sejak lama. Berulang kali saya membuka goodreads, berulang kali pula review positif tentang buku ini tertulis jelas. Siapapun yang mencari review tentang buku ini, pasti mereka akan menemukan buku ini diulas begitu sempurna sampai rasanya sedikit pengulas yang memberikan komentar negatifnya.ย 

Jujur, saya sempat bosan dengan buku ini. Saya bukan tipe beberapa orang yang suka penggambaran diksi yang begitu jelas. Saya lebih suka sebua tema yang diarahkan langsung ke satu aksi atau konflik utama. Namun, setelah berada di tengah cerita, buku ini ternyata menyajikan banyak petaka menyedihkan untuk setiap tokohnya.

Buku Dengan Gambaran Latar Pedesaan Yang Sangat Terasa 

Saya jelaskan singkat inti dari novel ini. Ini mengenai ronggeng di salah satu desa Dukuh Paruk. Di desa Dukuh Paruk ini, saya menemukan banyak ada istiadat kuno mengenai hal-hal mistik, seperti halnya orang-orang di Dukuh ini lebih mengenal Ki Secamenggala ketimbang Tuhan. Orang Dukuh Paruk yang masih buta huruf, miskin, tetapi memiliki sosok ronggeng yang cantik. Orang-orang Dukuh Paruk yang belum mengenal kekerasan seksual tetapi lebih mengenal dengan istilah bertayub. Orang-orang Dukuh Paruk yang lebih mengikhlaskan suaminya bercinta dengan seorang ronggeng hanya karena membuktikan suaminya perkasa. 

Dia adalah Srintil yang dipilih oleh indang untuk menggemparkan dunia akan kelihaiannya bergoyang di setiap mata yang melihatnya. Tidak peduli wanita atau pria, mereka menyembah Srintil selayaknya dewi yang diturunkan dari khayangan. Srintil memang dilahirkan untuk menjadi ronggeng, tetapi untuk bisa mendalami perannya sebagai ronggeng di panggung, Srintil harus melakukan beberapa ritual. Dari ritual pedupaan, belum mengenal Tuhan, terlebih lagi mereka lebih mempercayai hal-hal gaib. Seperti sesajen, menyembah makan dan lain-lainnya. 

Penggambaranlatar pedesaannya yang terlalu banyak kadang-kadang membuat saya bosan.  Memang beberapa kali juga saya skip bila penggambaran latar tenpat dan waktu terlalu panjang. Jujur, saya lebih suka cerita yang langsung walaupun cerita tersebut minim dialogue, tetapi setidaknya tidak terlalu panjang untuk menggambarkan suatu lokasi. Sampai saya bertemu dengan satu tokoh yang bernama Rasus. 

Baca Juga : NOVEL JATISABA DARI PENULIS RAMAYDA AKMAL YANG TERSIMPAN PERDAGANGAN MANUSIA DAN TRADIS EBEG

Buku Mengenai Kisah Romansa Antara Ronggeng Dengan Seorang Tentara. 

Ronggeng Dukuh Paruk

Srintil memang sudah berhasil menjadi ronggeng karena dia berhasil juga melepaskan keperawanannya. Di sinilah yang menarik. Srintil menginginkan seseorang yang spesial mengawininya. Memang nggak mudah untuk Srintil karena dia adalah gadis yang masih berumur 12 tahun. Untuk menjadi seorang Ronggeng, Srintil harus dewasa dengan dikawini oleh pria pilihan. Pria pilihan ini harus memiliki sekeping ringgit emas, yang pada zamannya itu sangat mustahil bila kamu bukan orang yang beradab dan kaya raya. 

Lelaki pilihan yang diinginkan Srintil adalah Rasus, laki-laki yang berumur 14 tahun dengan kondisi ekonomi lemah. Rasus miskin jadi dia tidak mungkin memiliki sekeping emas tersebut, tetapi dia juga menginginkan Srintil begitu juga dengan Srintil. 

Nah, di novel ini juga menyingkap sedikit oedipus complex milik Freud. Hehehe. Hal itu terjadi pada Rasus yang mengharapkan seorang Ibu. Dia kehilangan ibunya sejak kecil bersama dengan anak-anak dukuh paruk lainnya. Dia hanya diasuh oleh Neneknya yang sudah pikun. Kebencian Rasus dialihkan dengan menganggap sosok Srintil adalah Ibunya. Makanya, dia merasa untuk menjauhkan Srintil dari beberapa ritual Ronggeng termasuk mengambil keperawanan Srintil. 

Singkat cerita, lepas dari Dukuh Paruk, Rasus bertemu dengan seorang Sersan Slamet. Karena keberanian dan kesetiaannya kepada Sersan Slamet, dia pun dibantu untuk menjadi seorang tentara. Di sinilah, Srintil mendadak lupa dengan keinginannya menjadi ronggeng. Dan di sinilah, aku kurang begitu suka dengan perubahan sikap Srintil yang ambisius menjadi seorang wanita mabuk cinta. 

Kisah romansa di antara Rasus dan Srintil memang bertepuk sebelah tangan. Srintil bahkan lupa ambisinya menjadi ronggeng. Sayangnya, kisah romansa mereka hanya terselip saja. Seperti bumbu tambahan saja yang sebenarnya kalau ada atau nggaknya, konflik utama tetap bakal jalan. 

Buku Yang Menyimpan Banyak Petaka Dari Satu Tokoh Hingga Ke Semua Tokohnya

Ronggeng DUkuh Paruk

Dimulai dari Karakter di buku ini kuat banget, kecuali untuk Srintil dan sepertinya karakter Srintil memang dibuat plin-plan, konflik utama pun datang ke kehidupan si tokoh. Dari keluarga kartareja. Suami istri kartareja menginginkan kesuksesan Srintil menjadi ronggeng dengan memperjualkan Srintil. Dari sini saya tahu bahwa  selain menari di atas panggung, roggeng juga bisa dikatakan sebagai pelacur walaupun sebenarnya bukan itu makna dari ronggeng. Kalau karakter Srintil dibuat begitu ambisius, maka keluarga Kartareja ini sebagai pelengkap keambisiusan Srintil. Dari semua itu konflik utama pun terjadi dan menjadi petaka terdalam bagi kehidupan Srintil.

Awalnya petaka ini diperuntukkan hanya kepada satu tokoh, Si Srintil. Namun, semakin hari setiap tokoh tersebut mengalami masalah, semua tokoh pun terkena imbasnya. Dari romansa Srintil dengan Rasus, membawa desa Dukuh Paruk ikutan menanggung beban si Ronggeng. Tepat di tahun 65, Srintil menjadi ronggeng kembali lalu bertemu dengan Bakar. Pertemuan itulah yang membawa petaka ke seluruh tokoh yang tinggal di Dukuh Paruk. 

Karena kita tahu bahwa orang desa terlalu menutup mata mengenai politik, maka mereka tidak tahu makna dari gambar palu arit terebut. Dan hal itu, Srintil yang polos mengira beberapa tentara atau polisi bisa menyelamatkannya. Ternyata, saat dia ke sana, dia justru ditangkap. Nah, sayang sekali kisah hiruk pikuk tahun 65 di desa tdak terlalu terasa di novel ini. Yang saya tahu bahwa Srintil ditangkap dan tidak dijelaskan kondisi Srintil di penjara. Yang dijelaskan hanya kondisi Dukuh Paruk yang semakin menutup diri dan takut. 

Untungnya, konflik selanjutnya berhasil menarik minatku untuk membaca. Saat Srintil keluar dari penjara, dia menginginkan suatu keluarga. Dan juga, indang ronggengnya sudah terlepas dari tubuhnya, maka Srintil bisa memulai keluarga dan memiliki anak. Akan tetapi, kisah cinta seorang ronggeng yang bekas tapol benar-benar nggak bisa dianggap berjalan lancar. Dari Rasus cinta sejatinya tetapi bertepuk sebelah tangan, Marsusi yang sakit hati dan terlalu obsesi pada Srintil, dan terakhir Bajus. Dari Bajus lah saya tahu mengapa Srintil sangat plin-plan. Dia jatuh hati pada Bajus, sayang sekali Bajus justru hanya mengganti sosok Kartareja diam-diam. 

Semua konflik di dalam novel ini dikemas apik. Hanya saja, saya cuma nggak terlalu suka deskripsi latarnya bisa sampai satu dua lembar. Walaupun, hal itu tidak mempengaruh keindahan novel ini. 

Kalau kamu suka dengan kisah pedesaan yang masih mistik, belum mempercayai Tuhan, dan dikasih bumbu romansa pelik, kamu wajib membaca buku ini.