142 views
Ke(E)ping Buku

Perjalanan Buku-Buku Yang Menjadikan Saya Penikmat Buku Semua Genre

Perjalanan buku saya sunguh sangat panjang. Awalnya saya lebih memilih menyewa atau meminjam buku daripada memilikinya. Padahal, jurusan kuliah yang saya ambil adalah sastra asing. Buku yang saya miliki di rumah hanya segelintir. Lebih banyak menyimpan buku kuliah yang direkomendasikan oleh dosen saya daripada buku favorit saya.

Alasan saya tidak mengoleksi buku adalah umur buku tidak selama saya bisa menyimpan barang fashion di lemari saya. Perlu perawatan khusus agar buku-buku di lemari tidak dimakan rayap, berjamur, atau menguning. Namun, lama-kelamaan, perkembangan zaman mengubah banyak hal, dari beberapa tempat penyewaan buku yang lenyap sampai saya yang mendadak jadi jatuh cinta setengah mati dengan buku. 

Kaleidoskop Buku Yang Menjadikan Pembaca Semua Genre

Foto Diambil Oleh Penulis Sendiri

Tepat di awal November 2019, ketika pekerjaan menguras waktu dan tenaga di hari libur, saya mencoba mampir di salah satu toko buku Gramedia yang satu-satunya ada di Sidoarjo. Di beberapa rak buku Gramedia, saya bertemu dengan dua judul unik yang membuat saya penasaran. Laut bercerita dan Buku Panduan Matematika Terapan. 

Ketika memilih buku ini, saya hanya melihat judul dan cover mereka adalah warna kesukaan saya. Begitu membacanya, buku milik Mbak Triskaidekaman ini tergolong buku berat yang menggunakan sudut pandang orang kedua. Sesuai dengan namanya, buku ini berkaitan dengan Matematika.

Hal itu terjadi juga dengan buku Laut Bercerita milik Leila S. Chudori. Saya memilih buku ini karena cover yang cantik, beberapa penulis yang saya kenal juga memberi komentarnya di buku ini, dan sinopsis menarik mengenai kisah mencekamnya tahun 98.  Dua buku itulah yang membawa saya untuk lebih menyukai sebagai pembaca buku atau dalam istilahnya bookish. 

Dalam waktu tiga bulan di awal tahun 2020, tepat saat Indonesia tengah mengalami kendala pandemi covid-19 dan mengharuskan saya bekerja dan melakukan apa pun di rumah,ย  saya mendadak berinisiatif menyiapkan satu lemari buku. Ternyata, tanpa diduga, saya telah mengisi satu tingkat lemari penuh dengan buku favorit saya dulu. Nggak hanya itu, dari buku panduan matematika terapan dan laut bercerita, setiap bulannya saya berinisitiaf untuk mengisi lemari buku saya satu tingkat agar bacaan saya lebih luas. Semua itu melalui satu genre berlatar romansa bertambah menjadi genre yang berlatar sejarah.

Salt to the sea, novel dari ruta sapetys yang diterjemahkan oleh elex media memberikan nyawa baru lagi untuk saya. Empat tokoh yang berjuang untuk hidup di tahun 1945 saat perang dunia II berkecambuk di Prusia Timur. Kemudian The Woman In Castle ikut bersumbangsih membuat saya tetap menjadi seorang pecinta buku. Kisah mengenai perjuangan seorang wanita untuk menjaga istri dari kawan-kawan suaminya setelah perang nazi membuat saya semakin mencintai latar sejarah ini. Mulai dari buku ini, saya mendadak terjun bebas ke buku nonfiksi. Dari latar sejarah itulah membuat saya ingin menggali lebih dalam lagi mengenai segala hal yang berbau sejarah. 

Buku nonfiksi pertama saya yaitu Sapiens milik Yuval Noah Harari.ย  Buku yang tahun 2020 pertengahan belum sampai sefenomenal ini. Entah sejak kapan, saya jadi suka membaca buku nonfiksi seperti buku Kepunahan Keenam, Bumi Yang Dua buku itu berlanjut ke buku nonfiksi dengan tema lingkungan seperti buku Bumi Yang Tak Layak Dihuni dan kepunahan keenam, Genom, dan banyak lainnya.

Memulainya dari buku fiksi romansa, merambat ke buku fiksi berlatar sejarah lalu memberanikan diri membaca buku nonfiksi. Semua hal itu saya lakukan hanya dalam waktu kurang dari setengah tahun. Buku-buku itu yang membawa saya tetap menjadi penggemar buku sampai saat ini. Nggak hanya itu saja, saya menjadi penggemar buku dengan segala macam genre.  

Baca Juga : RONGGENG DUKUH PARUK: SEBUAH NOVEL YANG MENYIMPAN BERAGAM PETAKA KE SELURUH TOKOH

Melalui Gramedia, Saya Mendapatkan Beragam Manfaat

โ€œSemua orang memiliki genrenya masing-masingโ€ adalah alasan dari beberapa orang tidak bisa menikmati buku bacaan tersebut. Sedangkan menurut saya tidak ada satu orang pun yang memiliki satu genre favorit. Karena setiap buku pasti menyimpan lebih dari satu konflik yang mampu mengubah buku itu memiliki lebih dari satu genre. Entah buku tersebut bergenre histori romansa, fantasi-romansa, komedi horor, atau banyak hal lainnya.

Tentu saja, kita harus membaca buku yang sesuai keinginan kita, tidak dengan paksaan. Namun semestinya, membaca buku tidak hanya memberikan dampak yang menyenangkan tetapi juga  kita mendapatkan pencapaian ilmu yang tak terbatas. Bagi saya, semakin saya keluar dari zona nyaman bacaan saya, saya mengalami banyak perspektif mengenai bacaan dan pemikiran. 

Gramedia salah satu yang menjadi sumbangsih saya semakin mencintai bacaan buku. Dan melalui gramedia, saat ini saya melabeli diri saya sendiri sebagai bookish, kutu buku, bookstagram, booktweet, dan segala hal pelabelan untuk pecinta buku. Berikut ini peran Gramedia dalam perjalan saya untuk menyukai semua genre buku.

infografis Dibuat Oleh Penulis Sendiri
  1. Buku Gramedia Membawa Kosakata Baru

Baik itu fiksi atau nonfiksi dengan beragam genre, saya selalu menemukan banyak kata dan frasa yang asing. Ketika bertemu dengan kata asing itu, segera saya mencari di kamus untuk memahami maksud buku yang saya baca. Memiliki satu kosakata di dalam pikiran saja, sudah bisa membuka satu wawasan baru. Maka, menambahkan banyak genre di dalam daftar bacaan kita, perlahan-lahan kita bisa menguasai keseluruhan dunia.

  1. Semua Cover Buku Selalu Estetik Di Kamera Saya

Cover buku di Gramedia ini selalu menarik minat saya. Inilah alasan mengapa saya mendadak bisa menikmati semua jenis genre. Belum lagi cover yang cantik ini bisa dipadukan dengan hobi foto saya. Buku-buku yang saya telah baca memiliki album tersendiri di ponsel saya dan media sosial saya. Melalui media instagram, saya bisa mengembangkan kemampuan saya di bidang foto dengan buku. Dari bukulah, saya memiliki kesempatan memenangkan sayembara foto buku Midnight Sun dari Gramedia. Di bawah ini adalah salah satu karya foto yang telah saya menangkan dalam perlombaan di Gramedia.

  1. Mempelajari Seni Menulis Ulasan

Membaca tidak akan pernah lepas dari menulis. Dua kemampuan itu merupakan bagian dari pengetahuan. Seseorang tidak akan bisa memilih kemampuan membaca saja karena begitu dua hal itu dipisahkan, dia tidak akan bisa berkomunikasi dengan buku tersebut. Melalui buku terbitan gramedia juga, saya memulai menulis sebuah ulasan di blog ini. Semoga sampai terus-menerus saya tidak lelah menulis ulasan tentang buku 

  1. Membantu Saya Keluar Dari Reading-Slump

Reading Slump adalah dimana kita sudah tidak bisa menikmati membaca satu buku, tidak bisa mengikuti alur dari cerita buku tersebut dan perasaan membaca sudah tidak ada lagi. Apakah saya pernah di kondisi seperti itu? Iya. Selama setahun lebih saya sudah bisa membaca banyak buku. Namun, seperti halnya saya cepat jatuh cinta kepada buku, secepat itu juga saya bosan dengan buku. Hampir dua bulan saya tidak menyentuh buku karena entah kenapa buku-buku itu membosankan. Beruntungnya, saya bertemu dengan novel Amba karya laksmi Pamuntjak yang berasal dari penerbit Gramedia. Dari buku itu, saya kembali menjadi seorang penikmat buku. Dan buku itulah yang menjadi buku paling favorit saya yang nggak pernah membuat saya bosa membaca buku itu berulang kali.

Langkah Saya Untuk Bisa Masuk Ke Dalam Seluruh Genre Buku

Jatuh cinta dengan buku merupakan hal yang sangat menyenangkan. Namun, untuk terus-menerus jatuh cinta diperlukan usaha yang keras lagi. Dengan membaca buku semua genre, saya mengalami banyak hal yang baru sehingga rasa bosan itu seringkali menguar lepas. Namun, diperlukan sikap yang hati-hati juga untuk memilih buku bacaan. Jangan sampai keinginan untuk bisa membaca semua genre justru membuat si pembaca tidak bisa bergerak lagi untuk membaca. Nah untuk memudahkannya, saya biasanya menggunakan cara ini agar saya tetap bisa masuk ke dalam seluruh genre buku.

Perjalanan Buku
  1. Tidak pernah takut menargetkan bacaan lebih banyak. Tekad bulat nggak akan membuat impian saya membulat takut. Mengambil banyak buku pilihan justru membuat saya gampang menemukan beragam alternatif antara menemukan sesuatu yang baru atau justru menemukan sesuatu yang sebenarnya hal yang saya suka sejak lama. 
  2. Ikut tantangan membaca dari beberapa justru memudahkan saya mengembangkan banyak buku bacaan di lemari buku saya. Ditambah saya juga merasa ada teman baru untuk menemani saya membaca buku tersebut. Cobalah aplikasi penggemar buku yang bernama goodreads. Di sana juga menyediakan tantangan membaca setiap tahunnya dan ulasan buku-buku.
  3. Pilihlah buku dari penulis favorit. Membaca buku dari penulis favorit adalah cara termudah untuk memulai membaca buku genre terbaru saya. Karena tidak mungkin seorang penulis tidak mengembangkan karyanya. Contohnya, Ibu Leila S Chudori dan Ibu Okki Madasari. Dua penulis ini tidak hanya menulis buku fiksi, tetapi juga menulis buku nonfiksi berupa esai atau kadang opini di surat kabar
  4. Buat agenda membaca. Atur agenda dengan memberikan waktu per minggu untuk membaca genre apa yang akan dicoba nanti. Saya menggunakan aplikasi notion untuk mengatur agenda membaca saya. Kalian bisa mengunduhnya di Play store.

Tidak harus melalui satu penerbit untuk menambah wawasan bacaan. Kalian bisa membaca buku apa pun dengan penerbit siapapun. Mempelruas bacaan itu menyenangkan. Seakan-akan, saya tengah melakukan perjalanan di seluruh bagian negara dan menemukan hal-hal yang terduga. Dahulu, saya memang suka membaca tetapi tidak berniat untuk memiliki buku bacaa. Saat ini justru saya tidak hanya suka memilikinya, tetapi juga suka menyebarkan buku bacaan favorit saya ke teman-teman saya. Oleh karena itu, yuk jangan hanya berhenti di satu genre bacaan kesukaanmu.


Media Gambar Dan Foto : Canva, Lightroom, dan Freepik

Desain Gambar : Aresreva

Hasil Foto : Aresreva