96 views
Buku V*gina
Ke(E)ping Buku

Buku V*gina Yang Begitu Seksual

Buku V*gina memberikan saya clickbaitnya. Sampai rasanya, saya merasa ditipu dengan buku ini. Namun, bukan berarti buku ini tidak memuaskan saya, justru isi buku ini membuat saya terkejut bukan main.

Hanya karena keadaan-keadaan ini dimediasi ecara kimia, bukan berarti bahwa mereka bukan cinta-diri yang “nyata”, keterikatan terhadap kebiasaan yang nyata, atau kebahagiaan yang “nyata”. Kita yang bukan ilmuwan seringkali lupa bahwa bahan kimia otak adalah kendaraan utama untuk kebenaran manusia yang paling mendalam.

Naomi Wolf

Judul : V*gina Kuasa dan Kesadaran

Penulis: Naomi Wolf

Genre : Nonfiksi, Gender, Feminisme, Perempuan

Penerbit : Odyssee Publishing

Jumlah Halaman : 125 hal; 18cm

Rating Goodreads : –

Rating Pribadi : 3.50/ 5.00

Baca Juga : Mencari Berkah Dari Membayar zakat Fitrah Orang Tua Melalui Sinergi

Ulasan V*gina Kuasa dan Kesadaran

buku V*gina

Awalnya saya tertarik dengan judul V*gina kuasa dan kesadaran. Saya kira buku ini memang memberikan opini terbaik dari menjadi seorang perempuan. Sampai akhirnya, yang saya tahu buku ini hanya mengenai sesksual wanita. 

Buku V*gina ini memang hanya berhalaman 121 dengan ukuran tidak lebih dari 18cm. Buku ini memang tipis, saking tipisnya saya bisa menyelesaikan buku ini hanya dalam kurun waktu 3 jam. Ketika membacanya, saya merasa kaget dengan kisah seorang penulis yang mengalami spina bifida versi ringan–kondisi di mana tulang belakang tidak pernah berkembang sepenuhnya. Dari pengalaman itu, tulisan itu berkembang menjadi fungsi vagina pada umumnya. Yang agak membuat saya bingung mengenai buku ini adalah fungsi dari orgasme vagina dan klitoris yang selalu dibahas-bahas di setiap babnya. 

Pembahasannya bukan hanya sekadar fungsi ilmiahnya saja, tetapi lebih diarahkan menganai hubungan intim yang menyenangkan. Sejujurnya, saya suka pembahasan ilmiah mengenai vagina yang dikaitkan dengan kodrat sebagai perempuan. Akan tetapi, saya kurang suka dengan pembahasan bahwa pria yang ingin mengerti perempuan diharuskan juga memahami fungsi vaginanya. 

Sebagai contohnya, penggunaan istilah pria itu lebih tantra–lebih sensual di atas ranjang, tetapi dia juga perlu memperhatikan apa yang diinginkan wanita. Contoh mengenai pembahasan hubungan seksual inilah yang masih menjadi kekecewaan saya terhadap buku nonfiksi ini. Kesetaraan gender di sini juga dikaitkan dengan hubungan seksual dalam hal orgasme. 

Mungkin ini terlalu kasar, tetapi saya membaca buku ini seperti buku kamasutra versi ilmiahnya tentang vagina perempuan. Walaupun, sebenarnya, secara ilmiah kedudukan gender itu memang berkaitan dengan alat jenis kelamin mereka. Di sini, buku itu membahasnya secara ilmiah. Sayang sekali, saya kurang suka dengan mengistilahkan kesetaraan gender dengan klitoris, orgasme, dan lain-lainnya. Karena kata-kata ilmiah itu dipadukan dengan rangsangan seorang wanita saat tengah berhubungan seksual. 

Jadi, kalau buku ini membahas mengenai kesetaraan gender dengan menggunakan pandangan bagaimana seksual juga mempengaruhi. Kalau kamu mencintai kesetaraan gender, buku ini memang bisa dijadikan acuan tetapi bukan berarti sebagai buku pedoman. Lebih ke bahan bacaan pelengkap saja mengenai gender. 

Baca Juga : Perjalanan Buku Yang Membuat Saya Penikmat Semua Genre Buku